Pernyataan ini terlontar menyusul langkah Menteri Politik Hukum dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno yang menginstruksikan kepada Polri untuk tidak mengeluarkan izin bagi penyelenggaraan Musyawarah Nasional Golkar di Bali pada Minggu, 30 November 2014. Tedjo menilai potensi kerusuhan pada Munas Golkar amat besar mengingat dua hari berturut-turut kantor Golkar di Jakarta diserbu massa yang mengakibatkan beberapa orang terluka. (Baca Menkopolhukam: Kalau Munas Golkar di Hutan, Aman)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui, konflik internal di partai beringin kian runcing. Selasa (25/11), massa Angkatan Muda Partai Golkar terlibat bentrok di kantor Dewan Pimpinan Pusat Golkar, Slipi, Jakarta Barat. (Baca AMPG Saling Serang di Kantor Golkar: Mana Parang?!) Itu kali kedua AMPG menyerbu kantor Golkar. Sehari sebelumnya, Senin (24/11), mereka juga merangsek masuk ke ruang rapat pleno DPP Golkar. (Baca: Golkar Diserbu, Ical Sembunyi)
Rangkaian peristiwa itu membuat Wakil Ketua Umum Golkar Agung Laksono, yang juga calon ketua umum Golkar dan dengan demikian menjadi rival Ical, membentuk Presidium Penyelamat Partai Golkar dan mengangkat dirinya menjadi Pelaksana Tugas Ketua Umum Golkar. Sejumlah calon ketua umum Golkar lain bergabung dengan Agung ke dalam Presidium Penyelamat Partai Golkar guna menghadang langkah Ical yang ingin meneruskan kepemimpinannya di partai itu lima tahun mendatang. (Baca: Munas Tandingan Golkar Digelar Januari di Jakarta)
Sejarah Golkar selama 50 tahun berdiri bisa dibaca di FOKUS: Umur Emas Partai Beringin
Menanggapi gejolak Golkar itu, Fahri meminta pemerintah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti ketika menangani kisruh Partai Persatuan Pembangunan. (FOKUS: Babak Baru Perseteruan Partai Kabah)