Hal ini disampaikan Fahri menanggapi permintaan Jokowi kepada Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri untuk merevisi Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2015 tentang Jaminan Hari Tua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Fahri membandingkan pemerintahan Jokowi dengan pemerintahan era Presiden Soeharto. Dia meyakini, Soeharto dapat memimpin selama 32 tahun bukan hanya bermodalkan kekerasan semata. Namun karena Soeharto juga dibantu orang-orang luar biasa seperti Moerdiono yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Negara.
Diketahui, Presiden Jokowi baru menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2015 tentang Jaminan Hari Tua, yang mengubah minimal masa kerja 5 tahun menjadi 10 tahun pada 30 Juni atau satu hari sebelum Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang BPJS memerintahkan pelaksanaan BPJS Ketenagakerjaan dimulai 1 Juli 2015.
Setelah diprotes banyak kalangan, Jokowi memerintahkan Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri untuk merevisi PP tersebut. Dalam revisi itu, para pekerja yang kena PHK atau tidak lagi bekerja bisa mencairkan JHT sebulan setelah kehilangan pekerjaannya.
Selain itu, Jokowi juga pernah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2015 tentang pemberian fasilitas uang muka bagi pejabat negara untuk pembelian kendaraan perorangan.
Namun Jokowi memutuskan merevisi perpres tersebut setelah menuai protes. Saat itu, Jokowi mengaku tidak membaca dan mempelajari perpres yang dia teken. (rdk)