Teknologi di Balik Pesawat Penjelajah Antariksa
Lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA, tengah mengembangkan pesawat generasi terbaru yang diharap bisa membawa manusia ke antariksa terjauh yang belum pernah dilakukan pada penerbangan antariksa sebelumnya. Pesawat itu diberi nama Orion.
Dibutuhkan biaya Rp 870 triliun untuk membangun pesawat ini, yang masih dalam tahap uji coba. Biaya itu digunakan untuk membekali pesawat Orion dengan teknologi terkini.
Pesawat ini memiliki dua ruang utama untuk para awak pesawat. Yang pertama adalah conical Crew Module (CM) dengan bentuk kerucut dan dan dapat memuat hingga empat awak. Kedua, ada ruang cylindrical Service Module (SM) berbentuk silinder. Kedua ruang ini dibuat berdasarkan teknologi pada Apollo yang telah mengorbit pada tahun 1967 dan 1975.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada pula ruang kabin yang disebut Deep Space Habitat. Ia memiliki perlindungan termal dan sistem avionik pesawat sehingga penumpang akan terhindar dari suhu panas pesawat ketika melewati atmosfer.
Sehingga, ketika pesawat ini mendarat di permukaan laut, penumpang yang berada di dalamnya tidak akan mendapat tekanan yang berbeda yang dapat membahayakan kondisi fisik mereka.
Pesawat ini dibuat dengan kandungan lithium aluminium pada bagian luar. Kandungan ini akan menjadi “selimut” bagi pesawat yang melindungi dari kenaikan suhu panas yang drastis ketika pesawat mengorbit. Dengan menggunakan lapisan ini, daya tahan pesawat ini terhadap suhu menjadi lebih baik dari pada pesawat ulang alik.
Selain itu, Orion memiliki sebuah kabin yang dapat menjadi penghubung ketika pesawat mendarat di stasiun ruang angkasa. Kabin ini berfungsi sebagai “koridor” yang dapat digunakan oleh awak pesawat untuk memasuki stasiun ruang angkasa.
Kabin tersebut memiliki penutup yang terbuat dari fiberglass yang dapat mempertahankan sistem tekanan pada pesawat.
Secara keseluruhan, teknologi dalam Orion mengadopsi pesawat pendahulunya, Apollo. Namun, NASA melakukan berbagai pengembangan dan penambahan fitur agar dapat bertahan labih lama di ruang angkasa.