Inovasi LIPI

LIPI Kembangkan Baja yang Lebih Kuat dan Tahan Karat

Yohannie Linggasari, CNN Indonesia | Rabu, 17/12/2014 13:50 WIB
LIPI Kembangkan Baja yang Lebih Kuat dan Tahan Karat Untuk memenuhi kebutuhan baja konstruksi yang kian meningkat, para peneliti di LIPI mengembangkan baja yang lebih kuat serta tahan terhadap karat (Ilustrasi/Antara/Muhammad Iqba)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan baja laterit yang punya keunggulan lebih kuat, tahan karat, serta lebih mudah dilas.

Dewasa ini, kebutuhan baja di Indonesia diimpor dari Brazil, di mana dibutuhkan waktu tiga bulan untuk mendatangkan baja tersebut. LIPI memprediksi pada tahun 2020 konsumsi baja Indonesia akan mencapai 20 juta ton.

Melihat besarnya kebutuhan masyarakat Indonesia akan baja, LIPI kemudian memanfaatkan biji besi (nikel) laterit sebagai jalan keluar.


"Indonesia punya nikel yang berlimpah yang banyak ditemukan di daerah timur Indonesia," kata Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain saat Diskusi Publik di Gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (17/12).

Dikemukakan oleh Kepala Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI Andika Widya Pramono, cadangan bijih besi (nikel) laterit di Indonesia mencapai dua miliar ton.

Dengan jumlah tersebut, ia mengatakan baja yang dihasilkan dapat digunakan untuk membangun jembatan atau bangunan.

"Kekuatan baja unggul hasil pengolahan tersebut sudah jauh lebih baik daripada baja lunak yang ada di pasaran. Kekuatannya juga masih dapat ditingkatkan lagi," kata Andika menjelaskan.

Adapun, Iskandar menjelaskan pihaknya bukan hanya mengembangkan penelitian ini secara akademis, tetapi juga mencoba agar penelitian ini bisa menjadi suatu industri.

"Kami mencoba mencari rekan untuk mengembangkan penelitian ini supaya kebutuhan baja di dalam negeri dapat terpenuhi," katanya.

Ditambahkan olehnya, pihaknya juga membutuhkan dukungan pemerintah, baik itu dari segi pendanaan maupun regulasi.

"Dari segi regulasi, kami butuh bantuan pemerintah agar baja ini dapat digunakan secara luas. Bila ini berhasil, akan tercipta kemandirian industri baja Indonesia," kata Iskandar.