Seto menjelaskan bahwa teknologi modifikasi cuaca merupakan redistribusi curah hujan di Jakarta. Menurutnya, daya dukung permukaan di Jakarta dan sekitarnya jauh lebih kecil daripada potensi hujan yang mungkin terjadi.
Dalam kondisi permukaan yang sudah jenuh seperti ini, maka hujan yang tidak terlalu banyak saja juga berpotensi menimbulkan genangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebaiknya menggunakan teknologi modifikasi cuaca untuk redistribusi curah hujan guna mengurangi debit air yang memasuki wilayah Jakarta," ujar Seto, Jumat (13/2).
"Oleh karenanya kami telah menyiapkan teknologi modifikasi cuaca sepanjang yang bisa kami siapkan. Namun karena belum ada perintah resmi, maka urung terlaksana,” jelasnya.
Sejak Senin (9/2), Seto mengatakan bahwa penyebab hujan tanpa henti di Jakarta adalah peristiwa meteorologis yang disebut dengan Cold Surge (Seruak Dingin).
"Yaitu berupa masuknya massa udara dingin dari Siberia menuju Jawa bagian barat,” ungkap Seto yang juga menjabat sebagai Kabid Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan, UPT Hujan Buatan BPPT.
Dia menambahkan bahwa seruak dingin yang masuk ke wilayah Jawa bagian barat bertemu dengan angin yang bertiup dari timur lalu terjadi konvergensi sehingga terbentuk awan-awan hujan yang cukup massif. (adt)