Dr Robert Harrison, pemimpin penelitian di Alistair Reid Venom Research Unit LSTM, telah mengumpulkan 21 spesies ular dari total 450 ular paling mematikan di Afrika sub-Sahara. Mereka mengeluarkan racun dari reptil itu dengan proses yang biasa disebut diperah.
Kemudian, racun itu diolah agar menjadi anti-racun guna mencegah kematian atau cederan parah korban gigitan ular.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, dampak sangat besar bakal dirasakan sebuah keluarga jika korban gigitan ular adalah kepala keluarga atau pencari nafkah.
Tim ilmuwan di LSTM berencana meningkatkan potensi anti-racun ini menggunakan teknik baru yang mereka sebut sebagai "antivenomics" yang memanfaatkan protein pada racun ular spesies tertentu. Dengan protein ini, kata para ilmuwan, secara signifikan anti-racun tersebut dapat mengatasi racun dari semua ular mematikan di Afrika sub-Sahara.
"Dan kita akan melakukan itu dengan mengidentifikasi protein yang unik untuk semua spesies lain. Dan mengambil protein-protein yang unik," jelas Harrison. (adt)