Menurut pengamat strategi dari Provetic, Shafiq Pontoh, pemblokiran bukanlah cara yang efektif untuk menghentikan pornografi.
"Pekerjaan saya itu menganalisis internet dan kelakuan masyarakat. Sebelum ada isu pemblokiran, dalam top 100 situs yang dikunjungi orang Indonesia itu tidak ada pornografi," ujar Shafiq dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (10/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, peringkat kanal pornografi justru meroket ke posisi 50 setelah isu pemblokiran bergulir. "Karena orang justru malah mencari. Mereka berpikir, 'Oh, ada?' Mereka lalu mencari dan malah membeludak," tuturnya.
Hanya dalam sekejap, upaya Shafiq untuk membangun konten positif di tengah masyarakat pun runtuh.
Namun, Shafiq mengaku tak mau menyerah. Ia mengerahkan tenaga mengajak masyarakat dan figur publik untuk tetap menebar konten-konten positif.
"Manusia hanya punya waktu 24 jam. Jika dipakai untuk makan, pergi ke kantor, sekolah, bermain, dan lain-lain, mungkin sisa waktu hanya dua jam untuk buka internet. Jika kita kasih konten positif, mereka tidak akan sempat cari-cari pornografi," katanya.
(eno)