BRTI: Tarif Internet akan Diatur Tahun 2016

Aditya Panji, Susetyo Dwi Prihadi, CNN Indonesia | Kamis, 23/07/2015 20:50 WIB
BRTI: Tarif Internet akan Diatur Tahun 2016 (Dok. Detikcom)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) berencana mengkaji aturan soal tata cara penetapan tarif layanan data (Internet) yang disalurkan melalui perusahaan telekomunikasi pada tahun 2016.

Agenda ini telah direncanakan jauh hari oleh pemerintah dengan prediksi pasar layanan Internet di Indonesia yang sudah matang.

"Rencana pemerintah dan BRTI mulai mengkaji tarif data mulai 2016. Ini perlu dipertimbangkan," ujar Anggota Komisioner BRTI Bidang Hukum, I Ketut Prihadi Kresna.


Ketut menjelaskan, tata cara ini hanya menetapkan formula komponen apa saja yang perlu dihitung perusahaan telekomunikasi saat konsumen memakai layanan Internet. Arahnya akan seperti formula pentarifan layanan teleponi dasar meliputi telepon (voice) dan pesan teks (SMS).

"Kami hanya mengatur formulanya, sementara yang menetapkan tarifnya tetap si operator seluler," ujar Ketut saat dihubungi CNN Indonesia, Kamis (23/7).

Baca juga: Alasan Tarif Data Telkomsel Dipatok per Zona

Untuk dua layanan teleponi dasar, pemerintah telah membuat Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomo 9 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Jasa Telekomunikasi yang Disalurkan melalui Jaringan Bergerak Seluler.

Jika cara penetapan tarif Internet telah dibuat, diharapkan bisa meminimalkan kesenjangan tarif Internet seperti yang dikeluhkan pelanggan Telkomsel bernama Djali Gafur dalam sebuah petisi online di Change.org. Ia berkata tarif Internet Telkomsel di Indonesia bagian timur lebih mahal 100 persen dibandingkan bagian barat.

Petisi bertajuk "Internet Untuk Rakyat: Save @Telkomsel @KemenBUMN @kemkominfo" itu telah mendapatkan 5.700 dukungan pada hari ini pukul 2 siang. Petisi yang diarahkan kepada Telkomsel, Kementerian BUMN, dan Kementerian Komunikasi dan Informatika itu, menargetkan 7.500 dukungan dari warga.

Para pendukung petisi ini meminta Telkomsel bersikap adil dalam menetapkan tarif. Perbedaan harga kelewat tinggi dinilai menghambat mereka yang berada di zona timur.

"Kadang kami berfikir bahwa ketimpangan ini sungguh tidak adil. Warga di sini butuh akses Internet yang manusiawi, murah lebih baik (lelet dikit enggak masalah) biar akses informasi, pendidikan, pariwisata, pemerintahan, industri kreatif dan geliat ekonomi bisa hidup," tulis Djali.

Operator seluler lain diketahui tidak menetapkan perbedaan tarif layanan Internet. Sementara Telkomsel, operator seluler terbesar di Indonesia, memilih untuk membedakan tarif berdasarkan 12 zona wilayah. Harga termahal diberlakukan untuk zona 11 dan 12, meliputi Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Vice President Corporate Communications Telkomsel, Adita Irawati mengatakan, perbedaan tarif itu didasarkan pada beberapa faktor, seperti komponen biaya perangkat, biaya pemeliharaan, dan tingkat kesulitan lainnya.

"Penggelaran jaringan Telkomsel ke berbagai daerah di Indonesia memiliki besaran biaya yang berbeda-beda, akibat dari berbedanya tingkat kesulitan dan komponen biaya lainnya yang dibutuhkan untuk menggelar infrastruktur jaringan di lokasi tersebut," tutur Adita seperti CNN Indonesia kutip dari keterangan resminya. (adt/eno)