Gojek Didemo, Ini Komentar Menkominfo

Susetyo Dwi Prihadi, CNN Indonesia | Senin, 16/11/2015 19:18 WIB
Gojek Didemo, Ini Komentar Menkominfo Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh sejumlah mitra pengemudi PT Gojek Indonesia yang meminta lebih transparan soal pemotongan biaya dari pendapatan, turut menjadi perhatian Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.

Menkominfo Rudiantara menyarankan agar para sopir Gojek dengan perusahaan untuk melakukan mediasi dengan pendekatan kekeluargaan. "Mediasi saja antara Gojek dengan mitranya tersebut. Dijelaskan mengapa mereka harus melakukan kebijakan tersebut," ujar Rudiantara, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Senin (16/2015).

Dia menambahkan Gojek berbeda dengan layanan seperti Uber atau GrabCar, karena kendaraan motor ojek, bukan alat transportasi resmi yang diatur dalam regulasi.



"Gojek itu bukan diatur ride sharing, karena ojek bukan transportasi dalam undang-undnag. Beda dengan GrabCar. Mereka ini perusahaan yang memecahkan masalah sosial, makanya disebut socialpreuneur," ujar Menteri yang akrab disapa Chief RA tersebut.

Demonstrasi yang dilakukan sebagian kecil pengemudi Gojek kali ini menuntut agar perusahaan Gojek mengembalikan tarif per kilometer dari Rp 3.000 menjadi Rp 4.000 seperti yang berlaku sebelumnya.

Selain itu, mereka juga meminta pihak Gojek lebih transparan ketika melakukan pemotongan biaya dari pendapatan agar para mitra mengetahui ke mana setiap duit yang dikutip berlabuh.

Pendiri sekaligus CEO Gojek, Nadiem Makarim mengatakan, penurunan tarif dilakukan sebagai upaya merasionalkan tarif di tengah ledakan jumlah pengguna.

"Jika kami menurunkan subsidi untuk pengguna, itu akan merugikan bagi pengguna dan pengemudi. Menurunkan tarif (untuk sopir Gojek) adalah pilihan agar pengemudi terus bisa menerima order," kata Nadiem beberapa waktu lalu.

Gojek sendiri kini telah memiliki 200 ribu mitra pengemudi di lima kota tempat mereka beroperasi, di mana 100 ribu di antaranya adalah mitra pengemudi di Jakarta. (adt/eno)