Potong Pendapatan Sopir, Gojek Diminta Lebih Transparan

Marry Marsela, CNN Indonesia | Senin, 16/11/2015 14:41 WIB
Para pengemudi Gojek meminta PT Gojek Indonesia lebih transparan dalam memotong pendapatan agar mereka tahu ke mana setiap duit yang dikutip berlabuh. Ilustrasi. (Dok. Gojek Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Para mitra pengemudi Gojek meminta perusahaan PT Gojek Indonesia lebih transparan dalam melakukan pemotongan biaya dari pendapatan agar mereka mengetahui ke mana setiap duit yang dikutip berlabuh.

Pengemudi yang bergabung dengan Gojek pada umumnya akan dikenakan biaya potongan dari pendapatan untuk kredit perangkat ponsel, potongan untuk biaya atribut seperti helm, penutup wajah, sampai jaket, dan potongan untuk cicilan motor bagi mereka yang membeli motor dengan cara kredit lewat perusahaan Gojek.

Namun, para pengemudi ini berpendapat bahwa tak ada rincian yang detail terkait pemotongan pendapatan kendati sejak awal mereka telah diberi tahu biaya-biaya yang akan dikutip.


“Pemotongan bisa dicek di deposit bahwa ada potongan sekian, namun tidak ada rincian yang jelas terkait untuk apa pemotongan dilakukan,” ungkap salah satu sopir Gojek kepada CNN Indonesia, Senin (16/11).

Pemotongan yang dialami sopir Gojek bisa sebesar Rp 40 ribu setiap pekan, hingga Rp 150 ribu bagi mereka yang menyicil motor lewat Gojek. Besarnya cicilan sopir Gojek ini memang bervariasi. Untuk cicilan perangkat ponsel, misalnya, besarnya cicilan tergantung dari merek dan tipe ponsel. Begitu juga dengan jumlah cicilan motor.


Setiap sopir memiliki tanggung jawab melunasi cicilan dari gaji yang mereka raih setiap pekan. Namun sejauh ini, para pengemudi menilai perusahaan Gojek belum transparan terkait hal ini. Mereka juga mengaku tak mendapat informasi cicilan yang mereka jalani ini sudah sejauh mana.

Untuk atribut, contohnya, beberapa pengemudi mengaku belum mendapatkan atribut tetapi pihak Gojek melakukan pemotongan dari pendapatan. 

“Mungkin masih banyak sopir lama yang masih belum mendapatkan atribut, sedangkan mereka mengalami pemotongan pada depositnya. Ini yang mungkin kemudian membuat mereka bingung dan bertanya-tanya, kira-kira pemotongan dari depositnya itu digunakan untuk bayar cicilan apa saja," ujar pengemudi Gojek lain yang dihubungi CNN Indonesia.

Sebelumnya pemotongan ini dilakukan setiap hari dengan rincian bervariasi bagi setiap sopir. Namun kini, setelah ada penggantian sistem pada manajemen Gojek, pemotongan dilakukan setiap pekan. Rata-rata, cicilan akan lunas dalam waktu tiga bulan.

“Dulu, pemotongan dilakukan setiap hari. Ada yang dipotong sebesar Rp 8 ribu, Rp 11 ribu, dan Rp 15 ribu. Sekarang, pemotongan dilakukan setiap akhir pekan. Minggu lalu, pemotongan dilakukan hari Sabtu,” tutur seorang mitra pengemudi Gojek yang enggan disebut namanya.


Lantaran pengelola Gojek yang dinilai tidak transparan dan menimbulkan tanda tanya besar, sejumlah mitra pengemudi melakukan aksi protes di depan kantor Gojek yang berlokasi di Kemang, Jakarta Selatan. Mereka berencana melakukan aksi protes selama tiga hari pada Senin (16/11), Rabu (18/11) dan Jumat (20/11).

Mereka juga mempublikasi sebuah surat edaran kepada para mitra lain. Koordinator aksi ini, Fitrijansjah Toisutta, menilai Gojek telah melakukan pemotongan pendapatan secara sepihak. Mereka juga menuntut agar Gojek mengembalikan tarif per kilometer menjadi Rp 4.000, dari Rp 3.000 per kilometer yang kini berlaku.

Hingga berita ini ditayangkan belum ada tanggapan resmi dari pihak Gojek. Mediasi yang dilakukan antara pihak sopir dan Gojek pun masih belangsung saat ini secara tertutup. (adt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK