Telkomsel Tolak Penurunan Biaya Interkoneksi

Susetyo Dwi Prihadi, CNN Indonesia | Rabu, 24/08/2016 11:51 WIB
Telkomsel Tolak Penurunan Biaya Interkoneksi Menara pemancar sinyal milik Telkomsel di Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa Tengga Timur. (CNN Indonesia/ Susetyo Dwi Prihadi)
Alor, CNN Indonesia -- Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah menolak penurunan biaya interkoneksi Rp 204 yang akan diberlakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Surat Edaran Kominfo No.115/M.Kominfo/PI.0204.08/2016.

Dia menyatakan, Telkomsel sudah mengirimkan surat keberatan ke Kemkominfo mengenai rencana penurunan sebesar 26 persen tersebut. Namun, Ririek mengaku belum mendapatkan respons dari regulator.

“Kita mengakui bahwa biaya interkoneksi Rp 250 itu dari Telkomsel, namun atas kesepakatan bersama. Nah, penurunan saat ini, justru kami, stakeholder justru tidak dilibatkan secara langsung,” kata Ririek, saat ditemui di Alor, Nusa Tenggara Timur, Rabu (24/8).



Dia bilang, menurut perhitungan Telkomsel, justru seharusnya biaya interkoneksi itu naik menjadi Rp 285 karena ini terkait dengan rencana bisnis operator penguasa 160 juta pelanggan tersebut.

Ririek menyinggung soal komponen lain. “Memang bila dilihat, alat-alat telekomunikasi turun. Tapi volume untuk membangun juga tinggi, baik itu coverage maupun menambah kapasitas,” ujarnya.

Ririek juga tidak habis pikir, mengapa Kemkominfo seperti membuat keputusan sepihak. Sebab dia mengingatkan soal Undang-undang 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi, di mana di situ tertuang secara tersirat bahwa penentuan biaya interkoneksi berdasarkan kemampuan masing-masing operator dalam membangun jaringan.

Hal berbanding terbalik, yang terjadi pada penurunan biaya interkoneksi per 1 September 2016 .


Dia memberikan gambaran,” Ada operator punya 1.000 BTS dan satunya 10 ribu BTS. Nah, yang operator 1.000 BTS pastikan akan mikir buat apa nambah (BTS) lagi bila yang dikeluarkan pada akhirnya sama.” (tyo/adt)