Dalam sebuah diskusi di ajang Google-Temasek Report Press Briefing di Jakarta, kemarin, Nadiem menegaskan bagaimana kekuatan bisnis layanan transportasi berbasis aplikasi telah mengubah perilaku konsumen dalam memilih jasa.
"Transportasi menjadi layanan paling cepat diadopsi oleh masyarakat di seluruh dunia. Hal ini absolut, melihat perilaku konsumen yang enggan berpindah ke offline lagi ketika mereka sudah menjadi online," ucap Nadiem.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain transportasi, pria berkacamata ini juga menyatakan layanan pengiriman makanan yang dipesan secara online juga menempati posisi adopsi tercepat. Dia mengklaim jasa pembelian dan pengantaran makanan GoFood dan Gojek telah menjadi layanan terbesar di Asia (di luar China) mengalahkan India.
Di pasar perdagangan elektronik alias e-commerce, Indonesia juga memiliki potensi pasar yang sangat besar. Menurut Google dan Temasek, nilai pasar e-commerce Indonesia diprediksi akan meningkat sebesar 39 persen setiap tahun hingga 2025 dan mencapai angka US$46 miliar atau setara Rp608 triliun.
CEO MatahariMall.com, Hadi Wenas, yang hadir dalam acara serupa turut menambahkan, bahwa bisnis e-commerce Indonesia belakangan ini sering disandingkan dengan perkembangan di India, China, bahkan Amerika Serikat. Namun menurutnya, adopsi layanan e-commerce di Indonesia berbeda dengan negara lain sangat berbeda karena saat ini konsumen yang berbelanja secara langsung di toko fisik jumlahnya masih sangat besar.
"Layanan e-commerce di India, China atau Amerika Serikat diadopsi sangat cepat. Once online sector takes over, offline slows down," tutur Hadi.
Hal tersebut disebut Hadi tidak terjadi secara cepat pesat di Indonesia. Ketika ekonomi merambah ke dunia online, masih banyak warga yang memilih offline. Keduanya diyakini bisa tumbuh bersama. (adt)