Corporate Marketing Director Samsung Elecronics Indonesia Jo Semidang, mengklaim kekuasaan Samsung di Indonesia ini dicapai berkat inovasi perusahaan dalam produk-produk terkini, mulai dari peralatan rumah tangga sampai peralatan telekomunikasi.
Performa perusahaan di Indonesia juga merangkak naik sejak mereka membangun pusat riset dan pengembangan (R&D) di sini pada tahun 2012.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mencontohkan, salah satu inovasi yang relevan dengan masalah di Indonesia yakni mesin cuci yang dilengkapi dengan sebuah papan untuk menggilas pakaian. Selain relevan dengan pengguna di Indonesia, hal serupa juga menjadi masalah bagi negara-negara lain di Asia.
Mengacu pada data lembaga riset GfK, minat masyarakat untuk membeli barang elektronik menurun sebesar tiga persen atau setara dengan Rp46 triliun sampai Juni 2016.
Produk rumah tangga menjadi satu-satunya kategori produk elektronik yang mengalami peningkatan penjualan, dibandingkan televisi dan ponsel. Samsung mencatat penjualan produk rumah tangga justru mengalami peningkatan sebesar 4 persen per Juni 2016, sementara televisi dan ponsel menurun masing-masing sebesar 4 persen dan 9 persen.
Lihat juga:Samsung Siapkan Ponsel Rekondisi tapi Resmi |
Untuk menggenjot angka penjualan produk elektronik, Jo menyebut strategi dan inovasi menjadi kunci utama bersaing di industri elektronik.
Bukan hanya itu, tren Internet of Things pun, yang membuat peralatan elektronik terhubung dengan Internet, disebutnya akan mentansformasi kebiasaan masyarakat Indonesia dalam menggunakan perabot rumah tangga.
"Memang IoT sudah tren sejak tiga tahun terakhir, tapi untuk infrastruktur di Indonesia yang masih kurang memadai. Hal ini menjadi peluang besar karena mampu mentransformasi masyarakat baik dari segi budaya, ekonomi, maupun cara mereka menjalani hidup," imbuhnya.
Samsung terus mendorong produknya untuk menjadi pemimpin global untuk produk elektronik. Sebuah riset yang dilakukan oleh konsultan merek dunia Interbrand, menempatkan Samsung sebagai merek global ketujuh dunia dengan nilai sebesar US$45,3 miliar. Angka ini meningkat tajam dibandingkan lima tahun silam di mana Samsung masih menempati poisisi ke-19 dunia dengan nilai US$19,5 miliar. (evn/adt)