Samsung: Penjualan Elektronik di Indonesia Melesu

Ervina Anggraini, CNN Indonesia | Senin, 29/08/2016 19:31 WIB
Samsung: Penjualan Elektronik di Indonesia Melesu Corporate Marketing Director Samsung Electronic Indonesia, Jo Semidang. (CNN Indonesia/Ervina Anggraini)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan teknologi raksasa Samsung mengklaim kini menguasai pasar produk elektronik di Indonesia sampai Juli 2016, namun kondisi ekonomi global yang melambat saat ini disebut sebagai penghambat turunnya keinginan masyarakat untuk mengganti produk elektronik yang juga terjadi di Indonesia.

Corporate Marketing Director Samsung Elecronics Indonesia Jo Semidang, mengklaim kekuasaan Samsung di Indonesia ini dicapai berkat inovasi perusahaan dalam produk-produk terkini, mulai dari peralatan rumah tangga sampai peralatan telekomunikasi.

Performa perusahaan di Indonesia juga merangkak naik sejak mereka membangun pusat riset dan pengembangan (R&D) di sini pada tahun 2012.


"Setiap tahunnya tim dari pusat akan datang ke masing-masing negara untuk mencari tahu masalah dan kesempatan apa yang bisa menjadi tantangan untuk sebuah inovasi baru. Biasanya masalah di satu negara relevan dengan masalah serupa di kawasan yang sama," pungkas Jo disela diskusi media di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin (29/8).


Dia mencontohkan, salah satu inovasi yang relevan dengan masalah di Indonesia yakni mesin cuci yang dilengkapi dengan sebuah papan untuk menggilas pakaian. Selain relevan dengan pengguna di Indonesia, hal serupa juga menjadi masalah bagi negara-negara lain di Asia.

Meski mengklaim penjualan elektronik kian meningkat, Jo tidak menampik jika kondisi ekonomi menjadi penghambat bagi masyarakat untuk berganti barang elektronik.

Mengacu pada data lembaga riset GfK, minat masyarakat untuk membeli barang elektronik menurun sebesar tiga persen atau setara dengan Rp46 triliun sampai Juni 2016.

Produk rumah tangga menjadi satu-satunya kategori produk elektronik yang mengalami peningkatan penjualan, dibandingkan televisi dan ponsel. Samsung mencatat penjualan produk rumah tangga justru mengalami peningkatan sebesar 4 persen per Juni 2016, sementara televisi dan ponsel menurun masing-masing sebesar 4 persen dan 9 persen.


Untuk menggenjot angka penjualan produk elektronik, Jo menyebut strategi dan inovasi menjadi kunci utama bersaing di industri elektronik.

Bukan hanya itu, tren Internet of Things pun, yang membuat peralatan elektronik terhubung dengan Internet, disebutnya akan mentansformasi kebiasaan masyarakat Indonesia dalam menggunakan perabot rumah tangga.

"Memang IoT sudah tren sejak tiga tahun terakhir, tapi untuk infrastruktur di Indonesia yang masih kurang memadai. Hal ini menjadi peluang besar karena mampu mentransformasi masyarakat baik dari segi budaya, ekonomi, maupun cara mereka menjalani hidup," imbuhnya.

Samsung terus mendorong produknya untuk menjadi pemimpin global untuk produk elektronik. Sebuah riset yang dilakukan oleh konsultan merek dunia Interbrand, menempatkan Samsung sebagai merek global ketujuh dunia dengan nilai sebesar US$45,3 miliar. Angka ini meningkat tajam dibandingkan lima tahun silam di mana Samsung masih menempati poisisi ke-19 dunia dengan nilai US$19,5 miliar. (evn/adt)