Peneliti Ciptakan Alat Pemantau Perubahan Emosi Seseorang

Bintoro Agung Sugiharto, CNN Indonesia | Jumat, 23/09/2016 05:25 WIB
Peneliti Ciptakan Alat Pemantau Perubahan Emosi Seseorang Ilustrasi anak sedih (Thinkstock/Fuse)
Jakarta, CNN Indonesia -- Banyaknya sinyal nirkabel di kehidupan modern saat ini dimanfaatkan ilmuwan di laboratorium Computer Science and Artificial Intelligence (CSAIL) MIT untuk mengembangkan sebuah alat pendeteksi keadaan emosional seseorang.

Alat bernama EQ-Radio tersebut bekerja dengan memantulkan sinyal nirkabel seperti WiFi ke tubuh seseorang. Sinyal yang terpantul merekam perubahan subtil yang terjadi pada ritme jantung dan napas sebelum ditangkap kembali sang alat.

Dalam uji coba, tingkat akurasi sistem ini mencapai 87 persen dalam menangkap perubahan fisiologis yang berpengaruh pada empat emosi utama: senang, bersemangat, marah, dan sedih.



"Jantung memiliki peran penting untuk memompa darah ke seluruh tubuh," ucap Mingmin Zhao, mahasiswa sarjana di CSAIL yang ikut membantu penelitian ini.

"Akibatnya, gurat kegelisahan akan terlihat di kepala, kulit, dan bagian tubuh lain." Kegelisahan yang timbul tadi akan dicocokkan dengan detak jantung sehingga EQ-Radio dapat membaca setiap perasaan yang timbul seketika.

EQ-Radio akan mengumpulkan beragam pola sinyal dari detak jantung yang terpantul dari setiap aktivitas. Sebagai contoh, jika pola gelombang menunjukkan aktivitas si A rendah maka disimpulkan orang tersebut sedang sedih.

Namun sebaliknya, bila pola kegiatan fisik tinggi maka bisa dibilang si A sangat bersemangat. Alat ini dapat mengukur detak jantung yang sama akuratnya dengan monitor ECG dengan margin error hanya 0,3 persen.


Tim ilmuwan menggunakan algoritma machine-learning untuk mempelajari keadaan fisik terkait emosi seseorang secara simultan. Salah satu alasannya, dipakainya algoritma itu karena korelasi yang dapat terjadi tak berlaku sama untuk setiap orang.

Peneliti mengumpulkan pola 130 ribu lebih detak jantung dari 30 partisipan untuk mengidentifikasi emosi lebih akurat.

"Untuk melatih sistem ini, kami meminta subjek membangkitkan emosi khusus dengan mengingat kenangan, bisa dari musik atau foto," jelas Zhao seperti yang dilansir Gizmodo.

Dengan data tersebut, Zhao dan timnya kemudian meminta subjek mengingat sesuatu secara spontan untuk mencocokkan data yang sudah diperoleh tadi.

EQ-Radio menggunakan sinyal yang sama seperti WiFi, hanya saja lebih lemah 1000 kali. Secara teori, nantinya sistem ini bisa dipasang ke router nirkabel lain, atau perangkat lain yang bisa memancar dan menerima sinyal nirkabel.


Temuan ini dapat dimanfaatkan lebih jauh ke berbagai bentuk. Misalnya, studio film atau kreator game dapat menggunakannya untuk mengetahui reaksi seseorang terhadap film atau game yang dibuat.

Alat ini juga bisa diaplikasikan ke perangkat smart home, seperti memasang musik dan mengatur cahaya sesuai mood pemiliknya. Sedangkan bagi pekerja kesehatan, EQ-Radio menjadi alat pendeteksi kesehatan kardiovaskular serta mengawasi keadaan emosional para pasien.

Walaupun punya potensi manfaat yang begitu luas, terdapat kekhawatiran pada aspek privasi pengguna. Itu sebabnya para peneliti mengusung piranti tambahan untuk menjaga keamanan privasi.

"Kami telah merancang sebuah mekanisme agar alat ini bisa mengetahui apakah sang pemilik setuju untuk diawasi. Ketika alat ini meminta seseorang tarik napas tiga kali dan orang itu tak menurutinya maka alat ini tak bisa mengawasi orang itu," imbuh Zhao.