Para ilmuwan di pusat kendali yang berada di Darmstadt, Jerman, bertepuk tangan setelah layar pemantau menunjukkan sinyal Rosetta telah hilang beberapa saat setelah mendarat di sebuah komet.
“Terima kasih Rosetta,” kata Direktur Jenderal ESA, Jan Woerner, dalam kicauan di Twitter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pencapaian misi Rosetta yang paling dikenal, adalah ketika pesawat induk itu berhasil melepas dan mendaratkan pesawat robotika yang lebih kecil bernama Philae, ke Komet 67P/Churyumov-Gerasimenko, November 2014. Keberhasilan ini disebut sebagai pendaratan pertama di komet.
Selain itu, Philae juga bertugas mempelajari medan magnet komet, melakukan pengeboran yang mengambil material komet, dan mempelajari komposisi kimiawi di tempat pendaratannya.
Sayang, pendaratan Philae di komet itu tak sesuai rencana. Philae mendarat di sisi komet yang tak mendapat pancaran sinar matahari langsung. Sinar matahari sejatinya berguna untuk mengisi daya panel surya Philae.
Sampai tibalah baterai pesawat Philae meredup dan masuk dalam mode hibernasi. Saat komet mendekati matahari pada 2015, pesawat Philae kembali menyala sesaat, dan akhirnya kembali mati.
Terakhir, Philae diketahui berada di antara bebatuan pada permukaan beku Komet 67P/Churyumov-Gerasimenko. (adt)