Chief Executive Officer (CEO) Gojek Nadiem Makarim mengatakan tuntutan pengemudi agar manajemen mengubah sistem penilaian performa yang memuat sejumlah syarat mendapatkan bonus, akan ditentukan dalam waktu dua pekan mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait sistem penilaian performa yang saat ini diberlakukan di Gojek, Nadiem menerangkan bahwa kebijakan tersebut bertujuan untuk memastikan para pengemudi bersedia menerima seluruh pesanan pelanggan.
"Ada suatu kondisi misalnya cancel tidak boleh kebanyakan, nggak boleh reject. Jadi driver tidak bisa terlalu bebas untuk cancel atau reject, untuk driver yang mau dapat bonus dia tidak terlalu dapat fleksibilitas," katanya.
Di tempat yang sama, Wakil Kepala Polda Metro Jaya, Brigadir Jenderal Suntana, mengapresiasi langkah yang telah ditempuh pengemudi dan manajemen Gojek.
Menurutnya, manajemen Gojek berjanji akan mencari solusi yang juga menguntungkan pengemudinya.
"Jadi saling menguntungkan dan saling ketergantungan nanti akan diputuskan dengan bagus dan kedua belah pihak," katanya.
Lebih dari itu, ia meminta kepada pengemudi Gojek untuk tetap bekerja dan melayani masyarakat dengan baik. Pengmudi pun diharapkan tidak terprovokasi oleh pihak-pihak yang coba mencari keuntungan dari perbedaan pemahaman yang terjadi saat ini.
Pengemudi Tidak Puas
Menanggapi hasil pertemuan tersebut, salah satu pengemudi Gojek asal Jakarta Utara, Empe (27), mengaku tidak puas dengan mediasi yang diselenggarakan di Polda Metro Jaya pada hari ini. Menurutnya, kesepakatan yang dihasilkan tetap menggantungkan nasibnya.
"Tidak ada keputusan yang pasti soal sistem penilaian performa itu. Saya belum puas," katanya.
Menurutnya, sistem penilaian performa yang berlaku saat ini sangat merugikan pengemudi. Karena, persentase penurunan lebih besar dibandingkan kenaikan.
"Bisa kita tarik, kenaikan performa hanya 2 sampai 3 persen. Tapi kalau kita nolak order cancel order, itu bisa turun drastis, 12 sampai 15 persen," tutur Empe. (tyo)