Indonesia@ccess menjadi 'rumah solusi' yang menaungi berbagai macam layanan, mulai dari pariwisata, akses teknologi, hingga pembinaan bagi UKM.
Presiden dan CEO Valdo Investama Reza V. Maspaitella kerap mengatakan bahwa pihaknya berambisi membuat "Alibaba versi Indonesia" melalui Indonesia@ccess.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Kriya, Platform e-Commerce untuk UKM |
Salah satu ambisi besarnya adalah menjadikan Indonesia@ccess sebagai perusahaan publik dengan melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO).
Selain itu, Reza juga mempercayakan pada pengembangan embrio komunitas di tiap layanan yang dinaungi Indonesia@ccess.
Contohnya pada layanan edukasi, Indonesia@ccess merangkul sejumlah sekolah dan pendidik untuk saling berbagi kurikulum. Dari situ nantinya akan tercipta semacam komunitas antara penyedia kurikulum dengan para pengguna.
Kemudian untuk pembinaan UKM, Indonesia@ccess menyediakan inkubasi khusus dalam bentuk klinik. Di sana, mitra pelaku UKM bakal diberi asupan edukasi soal proses produksi, keuangan dan pendanaan, hingga branding.
"Embrio komunitas ini juga menjadi esensi penting dari Indonesia@ccess sebagai platform besar, karena kami seperti rumah dan tiap layanan ini adalah kamar-kamarnya," Reza menjelaskan.
Kembali ke rencana IPO, Reza belum bisa memasang target berapa nilai perusahaan yang akan dihasilkan dari penjualan saham ke publik. Pun begitu dengan prediksi harga sahamnya. Masih terlalu dini, kata dia.
Lantas mengapa tiga tahun? Reza menyadari betul bahwa IPO itu sangatlah agresif. Namun kembali lagi, menurutnya jika tidak memasang deadline seperti itu, platform Indonesia@ccess tidak akan ada acuan untuk maju.
"Kalau tidak ada target besar, kami tidak punya acuan untuk bekerja keras dan berinovasi. Kalau memang molor, paling tidak empat tahun, tidak mungkin sampai 10 tahun. Jadi penting sifatnya untuk memasang target tiga tahun IPO. Semoga tercapai," jelasnya. (evn)