Pertarungan Mengisi Pasar Kosong Galaxy Note 7 Dimulai

Aditya Panji, CNN Indonesia | Rabu, 12/10/2016 12:42 WIB
Kekosongan ini akan diisi oleh Apple melalui iPhone 7 Plus, lalu Google Pixel yang berukuran 5,5 inci, serta sejumlah vendor China yang siap tempur di Asia. Ponsel Galaxy Note 7 dipamerkan Samsung dalam acara peluncuran di Jakarta, Selasa, 23 Agustus 2016. (CNN Indonesia/Djonet Sugiarto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keputusan Samsung mengakhiri produksi dan penjualan Galaxy Note 7 akan membuat sejumlah produsen ponsel pintar global mulai berlomba mengisi kekosongan pasar yang ditinggalkan oleh Galaxy Note 7 untuk setahun ke depan.

Kekosongan ini besar kemungkinan akan diisi oleh Apple melalui iPhone 7 Plus, lalu Google Pixel yang berukuran 5,5 inci, serta sejumlah vendor China yang siap tempur di kawasan negara berkembang.

Menurut analis Neil Mawston dari perusahaan riset Strategy Analytics, persaingan ketat menggantikan posisi Galaxy Note 7 akan terjadi di kawasan Asia oleh penyedia perangkat Android.


"Kesenjangan mungkin akan diisi oleh pesaing mereka, Apple dan Google Pixel, meskipun ada kemungkinan Oppo, Vivo, LG, dan Sony akan mendapatkan keuntungan lebih," kata Mawston seperti dikutip dari Reuters, Selasa (11/10).

Sementara itu, firma riset TrendForce berkata ketiadaan Galaxy Note 7 di pasar akan dinikmati oleh meningkatnya pangsa pasar Apple juga Huawei.

"Sebagian besar permintaan konsumen sekarang akan pergi ke tiga merek besar asal China, Huawei, Vivo, dan Oppo," kata analis Jan Dawson dari Jackdaw Research.


Dari pihak Samsung sendiri harus berpikir keras untuk menekan jumlah kerugian akibat keputusan berhenti memproduksi dan menjual Galaxy Note 7. Seri Note sebelumnya, Galaxy Note 5, menurut data Strategy Analytics terjual sebanyak 15 juta unit selama empat kuartal yang berakhir pada Juni 2016.

Samsung akan berjuang mempertahankan posisinya sebagai produsen ponsel pintar terbesar dunia, dengan mengandalkan Galaxy S7 yang memiliki layar lebih kecil. Dengan mendorong penjualan Galaxy S7, Samsung bisa mempertahankan margin yang besar dari ponsel andalan.

Perusahaan finansial Credit Suisse memprediksi Samsung bisa mengalami kerugian sebesar US$17 miliar atau sekitar Rp221 triliun akibat gagal menjual Galaxy Note 7.

Kerugian tersebut merupakan prediksi Credit Suisse jika Samsung benar-benar berhenti menjual Galaxy Note 7, yang berarti Samsung mengalami hilang penjualan sebanyak 19 juta unit ponsel atau setara uang hampir US$17 miliar yang diharapkan Samsung dari siklus produk Galaxy Note 7 ini.


Selain kerusakan dalam hal keuangan, insiden yang terus menerpa Galaxy Note 7 ini diprediksi para analis akan memengaruhi reputasi Samsung dalam jangka panjang.

Analis lain berpendapat ini bakal memengaruhi bisnis komponen Samsung, mengingat Samsung juga menyediakan jasa membuat sejumlah komponen kunci ponsel seperti layar, memori, sampai cip..

Perjalanan Galaxy Note 7

Serangkaian masalah yang menerpa Galaxy Note 7 mencuat sepekan setelah perangkat itu dijual di 10 negara pada 19 Agustus, dengan kasus ponsel terbakar dan meledak di Korea Selatan lalu diikuti di Amerika Serikat dan Australia.

Samsung mengambil langkah menarik peredaran 2,5 juta Galaxy Note 7 dari pasar pada 2 September, dan menyatakan bahwa komponen baterainya bermasalah. Penarikan produk Galaxy Note 7 dari pasar ini merupakan skala terbesar yang pernah dialami Samsung.

Samsung kembali menjual Galaxy Note 7 yang diklaim aman pada 1 Oktober, tetapi sejumlah laporan ponsel terbakar dan meledak kembali terjadi. Samsung memutuskan berhenti memproduksi dan menjual Galaxy Note 7 pada 11 Oktober. (adt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK