Gagal Dua Kali, Begini Kronologi Hilangnya Pesawat Nirawak

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Rabu, 09/11/2016 11:17 WIB
Gagal Dua Kali, Begini Kronologi Hilangnya Pesawat Nirawak Program Director Menembus Langit Azhar Pangesti (kiri) saat menyaksikan proses peluncuran pesawat nirawak UAV Ai-X1 menuju stratosfer di studio Jakarta, Jumat pagi (28/10).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pesawat nirawak UAV Ai-X1 yang diluncurkan kedua kalinya menuju stratosfer pada 29 Oktober lalu terpaksa harus gagal mencapai target ketinggian maksimal di 30 meter. Alhasil, pesawat ini pun dinyatakan hilang.

Nama pesawat Ai-X1 belakangan santer terdengar lantaran diproyeksikan bisa menjadi wahana udara tanpa awak produksi lokal pertama yang bisa menikmati stratosfer selama 40 menit untuk mengumpulkan data kondisi atmosfer Bumi, khususnya di wilayah Indonesia.

Pesawat Ai-X1 dikembangkan oleh AeroTerrascan asal Bandung, Jawa Barat ini pertama kali pada 28 Oktober lalu di Pamengpeuk, Garut dan sayangnya harus kembali mendarat lantaran ada gangguan pada sistem GPS setelah menembus awam hitam.


Proyek yang diberi nama Menembus Langit ini tak membuat patah semangat. Mereka mencoba lagi pada 29 Oktober kemarin di tempat yang sama.


Sudah mencapai ketinggian 19 kilometer, Ai-X1 harus alami kegagalan kedua kali karena balon helium yang mengangkatnya ke udara mendadak melepaskan diri dari tubuh pesawat.

Sejak itu, posisi pesawat Ai-X1 ternyata masih belum bisa dipastikan di mana.

Direktur Program Menembus Langit Azhar Pangesti menyatakan bahwa pesawat Ai-X1 sejatinya masih bisa kembali ke 'kandang' namun sistem GPS yang disematkan di tubuhnya tidak berfungsi dengan baik.

"Di hari kedua terjadi kerusakan GPS lagi seperti yang [peluncuran] yang pertama, tapi kali ini tidak terkoneksi kembali. Namun dengan estimasi inersial, pesawat masih bisa pulang ke rumah. Hanya saja memang posisinya tidak akurat," jelas Azhar Pangesti saat ditemui CNNIndonesia.com belum lama ini.

Sementara itu, Direktur Penerbangan Feri Ametia Pratama mengatakan, pihaknya masih dalam upaya pencarian pesawat nirawak mungil itu.

Setelah dikonfirmasi, Azhar mengatakan pihaknya meminta bantuan Lembaga Antariksa dan Penerbangan (LAPAN) di Garut karena sempat terhambat kondisi cuaca.

"Nanti juga akan bertemu dengan warga sekitar Pamengpeuk untuk turut mencari pesawat," imbuh Azhar.


Kronologi di Hari Kedua

Azhar menceritakan kronologi peluncuran pesawat Ai-X1 di hari kedua tersebut kepada CNNIndonesia.com.

Pada pukul 06.20 WIB, Ai-X1 yang telah mendapat sedikit sentuhan modifikasi itu meluncur dari Balai Uji Teknologi dan Pengamatan Antariksa dan Atmosfer milik LAPAN.

Hanya dalam kurun 48 menit, pesawat yang diangkut oleh balon helium itu berhasil mencapai stratosfer di 13 km.

Azhar mengaku, tim komando kala itu sebenarnya nyaris menghentikan penerbangan ketika balon terbang berada di awan hitam. Namun, berkat tiupan arah angin, balon dan pesawat berhasil terlepas dari jeratan awan hitam sehingga terus membumbung lebih tinggi di angkasa.


Pukul 07.30, terjadi gangguan yang dipercaya berasal dari GPS, lalu menyebabkan mekanisme pemisahan pesawat dari balon udara.

Saat pemisahan terjadi, pesawat telah mencapai ketinggian 19,376 meter atau dengan kata lain pencapaian tertinggi yang berhasil digapai oleh program Menembus Langit.

Setelah turun dengan tak menentu, Ai-X1 akhirnya berada di posisi terbang stabil pada ketinggian 14,140 meter. Sayangnya gangguan GPS malah memburuk sehingga pembacaan lokasi oleh pesawat tak lagi akurat.

Alhasil, proses pendaratan Ai-X1 hanya mengandalkan panduan inersial untuk pulang ke titik pendaratan.

Sebagai catatan kecil, panduan inersial adalah semacam sinyal yang dikirimkan oleh titik komando Pamengpeuk kepada pesawat. Kelemahannya, metode ini tak sepenuhnya akurat dan jangkauannya terbatas.

Dari hasil gambar yang tersambung terakhir pukul 08.17, pesawat berhasil mendarat utuh di permukaan tanah dengan perkiraan radius 500 meter dari lokasi seharusnya.

Sayangnya, hingga sepuluh hari sejak pesawat mendarat, tim Menembus Langit yang dibantu kru LAPAN dan warga Pamengpeuk belum menemukan keberadaannya.