Sensor Pertanian Karya Startup Lokal Diminati Internasional

Susetyo Dwi Prihadi, CNN Indonesia | Rabu, 23/11/2016 13:28 WIB
Habibi Garden, startup bidang sensor medium tanaman binaan Indigo Creative Nation (ICN), berkesempatan mempresentasi produknya di depan Menlu Jerman. Ilustrasi pertanian (Foto: ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho)
Jakarta, CNN Indonesia -- Habibi Garden, startup bidang sensor medium tanaman binaan Indigo Creative Nation (ICN), berkesempatan mempresentasi produknya di depan Menteri Luar Negeri Jerman Frank Walter Steinmeier.

"Dengan Habibi Garden kemarin presentasi depan Menlu Jerman, ini kabar membahagiakan berikutnya bagi kami karena startup binaan kami terus meraih pencapaian tingkat global," kata Ery Punta Hendraswara, Managing Director ICN, melalu keterangan resminya.

CEO Habibi Garden, Dian Prayogi Susanto menjelaskan, kesempatan langka tersebut diperolehnya dalam ajang "Falling Walls 2016: Young Innovator of The Year" yang diselenggarkan firma konsultan dunia AT Kearney di Berlin, Jerman, 9 November 2016 lalu.

Menurut dia, dalam helatan itu, peralatan dan layanan berbasis Internet of Things (IoT) untuk hasil panen pertanian lebih baik itu cukup memperoleh atensi baik dari audiens seluruh dunia termasuk Menlu Jerman.


"Salah satu topik pembicaraan saya dengan beliau adalah tentang besarnya potensi pemuda di Asia. Beliau berpesan, 'Saya sudah tua sebentar lagi meninggal, nasib dunia ada di tangan anak muda. Kuncinya tetap berinovasi'," katanya, akhir pekan lalu.

Menurut dia, selain Menlu Jerman Frank Walter, dirinya juga berkesempatan presentasi di depan Menristek Jerman. Namun terpenting dari itu, selepas pertemua, dia menjadi punya kenalan dan jejaring secara global.

Banyak perorangan dan lembaga yang kemudian menawarkan kerjasama dan layanan di bidang akedemik guna menajamkan keluaran maupun kualitas produk dari sensor medium tanamam tersebut.

Habibi Garden menancapkan sejumlah sensor water proof ke dalam medium tanah, sehingga bisa terdeteksi kondisi tanah, kelembapan, tingkat air, hingga serapan pupuk pada sebuah tanaman.

Saat ini, sudah diujicobakan pada lima petani tomat di Cipanas, Jawa Barat, yang memungkinkan petani lebih akurat dan terukur dalam pengelolaan agrikultur sehingga hasil lebih memadai.

Mengacu hasil di lahan tersebut, rerata petani tomat Cipanas memperoleh lonjakan hasil panen dari biasanya 6.000 kg per lahan naik menjadi 7.000 kg per lahan petani setelah gunakan temuannya itu.

Dian mengatakan, pencapaian tersebut sejalan dengan keberhasilan dirinya menjadi peserta terpilih dari total 13 startup program ICN Batch II yang baru diumumkan pada Rabu, 2 November 2016 lalu.

"Kami terpilih sebagai peserta kriteria customer validation dengan suntikan modal Rp10 juta, dan jika lolos tahap berikutnya, Indigo akan menambah lagi Rp120 juta. Kami bersyukur makin terbuka soal industri digital setelah masuk ICN," kata pria lulusan ITB angkatan 2007 ini.
Sensor Pertanian Karya Startup Lokal Diminati InternasionalDian Prayogi Susanto, CEO Habibi Garden, bersama Menlu Jerman, Frank Walter Steinmeier (kanan) (Dok. Habibi Garden)
Menurut dia, program inkubator yang telah ada sejak tahun 2009 tersebut memberi dua benefit utama. Yang pertama, kehadiran pementor yang menajamkan model bisnisnya secara berkelanjutan.

"Tadinya kami jual produk dan layanan kami kepada petani, tapi tak mudah. Mentor kami sudah berpengalamam dan sarankan sistem bagi hasil, ternyata jalan dengan baik," katanya.

Keuntungan kedua, kata pria yang kini melepas karirnya di sebuah perusahaan multinasional ini, adalah terbukanya jejaring lebih luas dalam cakupan Telkom Group yang berpengalaman di bidang digital. (tyo)