Indonesia Berpotensi Pimpin Pasar Startup Asia

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Senin, 14/11/2016 15:50 WIB
Indonesia Berpotensi Pimpin Pasar Startup Asia CEO Saeed Amidi (kedua dari kanan) saat meluncurkan Plug and Play, perusahaan hub digital cabang Indonesia di Jakarta, Senin (14/11). (CNN Indonesia/Bintoro Agung)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertumbuhan penggunaan ponsel cerdas di Indonesia menarik perusahaan hub digital Plug and Play asal Silicon Valley ikut bermain dalam industri digital dalam negeri. Hal itu ditandai setelah diresmikannya Plug and Play Indonesia di Jakarta, Senin (14/11).

Menurut CEO Plug and Play Saeed Amidi, meledaknya industri startup di Indonesia belakangan ini tak bisa lepas dari peran adopsi ponsel cerdas yang berkembang pesat. Saeed menilai catatan itu berpotensi membawa Indonesia memimpin industri digital terbesar setelah China di kawasan Asia.

"Penetrasi mobile di Indonesia bisa melewati capaian revolusi startup negara-negara lain yang lebih dulu berjalan," ucap Saeed.


Kemunculan Plug and Play yang telah menggandeng tiga perusahaan besar lokal yaitu Astra, BNI, dan BTN untuk dipertemukan dengan perusahaan rintisan. Pemilihan ketiga perusahaan itu tak lepas dari fokus Plug and Play Indonesia di bidang fintech (financial technology) dan mobile.


Berbekal pengalaman di Silicon Valley, Saeed berujar kesempatan tercapainya startup unicorn sangat ditentukan oleh kebutuhan penduduk suatu negara. Saeed misalnya memberi contoh bagaimana startup teknologi seperti Gojek yang bisa tumbuh sebagai unicorn berkat kejeliannya melihat ojek sebagai alat angkut alternatif.

Plug and Play yang berhasil membidani Paypal sebagai raksasa fintech di awal perintisannya berancang-ancang berinvestasi ke 50 startup lokal melalui program akselerator selama tiga bulan. Tak hanya sekadar investasi modal, Plug and Play Indonesia akan menghubungkan deretan perusahaan besar dengan startup lokal agar menghasilkan produk baru berbasis teknologi.

Meski demikian, Saeed menilai tak mudah memulai program "perjodohan" ini.


"Memulai bersama perusahaan besar tak mudah karena mereka biasanya ingin berkuasa penuh dan eksklusivitas di program ini. Namun mereka tak bisa berbuat demikian karena kita menginginkan bentuk inovasi terbuka," tambah Saeed yang mendirikan perusahaannya di tahun 2006.

Dalam program di Indonesia yang akan dimulai pada awal 2017, Plug and Play akan menyaring ratusan perusahaan rintisan lokal dan memilih 50 di antaranya sebagai yang berhak menerima suntikan modal.

"Kita lebih mencari orang-orang yang berpengalaman, memiliki purwarupa, dan riset karena kita lebih menginginkan yang sudah dewasa di bisnis ini," kata direktur akselerator Plug and Play Indonesia, Nayoko Wicaksono.

Adapun bantuan yang akan difasilitasi Plug and Play dalam program akselerator ini berupa mentoring dengan para ahli dari Silicon Valley, co-working space, hingga akses ke pengumpulan dana. Mereka membuka pendaftaran program bagi startup lokal yang berminat mengikuti program akseslerasi hingga akhir tahun ini. (pit/evn)