Startup New York Bikin 'Siri' Pengatur Jadwal Meeting

Bintoro Agung Sugiharto, CNN Indonesia | Kamis, 01/12/2016 06:00 WIB
Startup New York Bikin 'Siri' Pengatur Jadwal <i>Meeting</i> Ilustrasi. (Thinkstock/shironosov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tambah lagi deretan asisten digital pribadi yang bisa berinteraksi dengan manusia. Kali ini, ia berfungsi sebagai pengatur jadwal pertemuan atau meeting.

Sebuah startup asal New York, Amerika Serikat, mengembangkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sendiri yang bertugas mengatur jadwal pertemuan seseorang.

Pengalaman ini dibagikan oleh jurnalis Oscar Williams-Grut dari Business Insider. Bisa dibilang ia menjadi 'korban' kepintaran AI yang diberi nama Amy.


Layaknya peran asisten digital seperti Siri dari Apple, Alexa milik Amazon, hingga Assistant besutan Google, Amy tentunya hadir untuk membantu para pengguna. Dalam hal ini, Oscar.

Dalam tulisannya, Oscar mengaku terkejut ketika lawan bicaranya yang bernama Amy ternyata sebuah figur virtual.

Berawal dari mencari tanggal yang tepat untuk bertemu kawannya, Amy muncul sebagai asisten pribadi yang mewakili temannya itu.

"Saat saya email teman, ia langsung mengarahkan saya ke asisten pribadinya bernama Amy Ingrams," kisahnya.

Tak lama setelahnya, ia merasa ada sesuatu yang 'ganjil' di signature email milik Amy. Di sana tertera "Artificial intelligence for scheduling meetings".

Dari situ Oscar langsung menyadari bahwa selama ini ia berinteraksi dengan AI.

"Kami sangat senang mendengarnya, bukan karena kami menipu anda tapi karena kita telah mendesain teknologi yang terasa sangat alami sampai orang mengatakan 'terima kasih' dan semacamnya," kata Dennis Mortensen kepada Oscar.

Mortensen adalah pendiri sekaligus CEO x.ai, perusahaan rintisan yang mengembangkan Amy Ingrams dan Andrew Ingrams sebagai asisten pribadi yang dibuat berdasarkan algoritma.

Ide awal pembuatan 'Siri' bernama Amy ini berawal ketika Mortensen menyadari dirinya memiliki 1.019 pertemuan pada 2012 silam dan harus menjadwalkan ulang 672 kali.

Lalu pada 2013, Mortensen meluncurkan x.ai dan berhasil mengumpulkan US$35 juta pendanaan dari SoftBank dan FirstMark. Meski begitu, Mortensen mengaku ia kesulitan merealisasikan rencananya.

"Ada sekitar 90 orang yang telah mengerjakan ini selama 3 tahun. Mungkin mengejutkan tapi ini mirip mobil nirawak yang mudah dibayangkan tapi sangat suilit dieksekusi," tutur Mortensen.

Secara sederhana sistem kerja x.ai serupa dengan teknologi mobil nirawak. AI berjalan otomatis berkat algoritma mendapat sokongan manusia di balik layar komputer. Mereka bertugas memandu sistem AI agar bisa lebih cerdas.

Mortensen juga menegaskan bahwa operasi x.ai berjalan 100 persen otomatis. Sehingga manusia yang membantunya hanya bersifat mengawasi. Hanya ketika kejadian yang tak biasa, peran manusia dibutuhkan di operasional x.ai.


Salah satu pengguna x.ai bernama Sean Masters merasa keberadaan Amy mengusir bebannya dalam menjadwalkan pertemuan yang sering kali berjalan tak efisien.

"Menjadwalkan pertemuan luar biasa tak efisien. Dia (Amy) mengambil alih tugas itu dan membuat saya lebih produktif," kata Masters.

Ia menyambung, "kami bukan ingin membuat ulang Siri atau Google Assistant, tapi menjadikan satu agen yakni Amy dan Andrew sebagai perancang pertemuan yang efektif."

Menurut Masters, dengan menggunakan jasa Amy sebagai asisten pribadi, setidaknya ia bisa menghemat waktu sebanyak 3 jam dalam sepekan.

Pelayanan Amy atau Andrew tak membutuhkan sebuah aplikasi. Untuk mencicipi pelayanan mereka, seseorang cukup mendaftarkan email mereka ke situs x.ai secara cuma-cuma.

Namun, versi gratis hanya membatasi Amy dan Andrew membuat lima jadwal pertemuan dalam sebulan. Sedangkan untuk layanan yang lebih lengkap, x.ai mengenakan biaya US$39 atau Rp528 ribu.

Mortensen mengklaim, perusahaannya telah melayani ratusan ribu orang dan jutaan email untuk membuat janji bertemu berlalu-lalang di sistem mereka.

Meski punya masa depan yang menjanjikan, Mortensen mengaku masih mengalami kendala membuat AI lebih cerdas. Ia memberi contoh dalam hal membatalkan janji.

"Kemampuan kita untuk membatalkan sebuah pertemuan belum sepenuhnya sempurna. Kadang sistem kita canggih, kadang tidak karena orang-orang terlalu sopan," pungkas Mortensen. (hnf/hnf)