Penjualan iPhone 7 Diprediksi Kalah Seksi Dibanding iPhone 6

Bintoro Agung Sugiharto, CNN Indonesia | Rabu, 01/02/2017 06:54 WIB
Penjualan iPhone 7 Diprediksi Kalah Seksi Dibanding iPhone 6 Penjualan iPhine 7 diprediksi tidak mampu lampaui iPhone 6. (Foto: AFP PHOTO / ISAAC LAWRENCE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah analis pasar meragukan keuntungan Apple bakal berlipat dengan kehadiran iPhone 7 di tahun 2016. Ada kecenderungan konsumen justru lebih suka beralih ke iPhone 6.

Laporan Bloomberg pada Kamis (26/1) memperkirakan pendapatan Apple akan berlipat ganda di laporan keuangan akhir 2016. Namun hal itu tak lantas memastikan iPhone 7 sukses.

Analis pasar dari Barclays, Mark Moskowitz, menyebut pelanggan Apple baru justru lebih memilih iPhone 6 ketimbang sang adik. Alasannya ada dua yakni harga iPhone 7 yang kelewat mahal dan fitur yang ada di iPhone 6 serta variannya masih mumpuni untuk kebutuhan sehari-hari.


"Pelanggan ponsel cerdas belakangan melonjak beralih ke iPhone 6S," kata Moskowitz seperti yang dilansir oleh Bloomberg.

Akibat hal itu, Moskowitz mendeteksi ada kekhawatiran dari industri bahwa teknologi ponsel cerdas terkini melampaui kebutuhan normal penggunanya. Konsumen juga dipercaya lebih setia memakai ponselnya selama belum rusak.

Apple memang menanamkan sejumlah fitur terbaiknya di iPhone 7 yang mereka luncurkan di September 2016 silam.

Spesifikasi kedap air, kamera lebih canggih, baterai lebih tahan lama dan prosesor lebih cepat, nyatanya tak cukup meyakinkan pengguna segera beralih ke iPhone 7.

Alhasil para analis pasar dari Wall Street menerka ada dua penyebab alternatif yang menyebabkan iPhone 7 kurang seksi di mata pengguna setianya yaitu entah fitur iPhone 7 kurang memikat atau konsumen lebih menunggu iPhone 8.

Setidaknya mereka yakin jika tren peralihan lebih banyak ke iPhone 6 atau 6s, nilai jual rata-rata ponsel Apple diprediksi akan melorot di laporan kuartal akhir 2016 yang segera keluar.

"Kita tahu seperti apa wujud dan kegunaan sebuah ponsel cerdas. Inovasi tak akan banyak ditemukan di sektor ini," ujar investor teknologi terkemuka Peter Thiel kepada New York Times. (evn/evn)