Mark Zuckerberg Bela Imigran dari 'Ancaman' Donald Trump

Agniya Khoiri , CNN Indonesia | Sabtu, 28/01/2017 15:52 WIB
Mark Zuckerberg Bela Imigran dari 'Ancaman' Donald Trump Mark Zuckerberg tidak setuju keputusan Donald Trump soal imigran. (REUTERS/Mariana Bazo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejak Donald Trump disahkan menjadi Presiden Amerika Serikat, para pemilik perusahaan teknologi memilih menjalin hubungan baik dengannya. Namun tidak dengan penemu media sosial Facebook, Mark Zuckerberg.

Menurut laporan Tech Crunch, Zuckerberg memilih untuk melawannya. Melalui akun Facebooknya, dia mengutuk Trump yang mengancam para imigran.

"Seperti kebanyakan orang, saya khawatir tentang dampak dan aturan yang baru-baru ini ditandangani oleh Presiden Trump," tulisnya.

Dia menambahkan, “Kita perlu menjaga negara [Amerika Serikat] dengan aman dan berfokus pada orang-orang yang menimbulkan ancaman serta orang-orang yang membutuhkan bantuan."


Menurut Zuckerberg, AS merupakan bangsa imigran. Negara Adidaya itu mendapat manfaat berkat kecerdasan dan pekerja terbaik yang ikut berkontribusi untuk mereka.

Sikap oposisi dari Zuckerberg itu disebut-sebut dilakukan demi keberlangsungan Facebook.



Para pekerja di perusahaannya sebagian besar merupakan imigran di AS dengan visa H1-B (visa bekerja). Oleh karenanya, pembatasan akan program visa H-1B dapat mengurangi kinerja Facebook yang butuh bakat terbaik dari mana pun untuk membangun media sosial populer itu.

Lebih dari itu, Zuckerberg sendiri seorang imigran. Demikian pula istrinya.

"Kakek buyut saya berasal dari Jerman, Austria dan Polandia. Orang tua Priscilla [istrinya] adalah pengungsi dari China dan Vietnam."

Seperti diketahui, Trump terus menyalahkan globalisasi karena itu membuat banyak pekerja berpindah ke berbagai negara. Menurutnya, hal itu mengurangi peluang masyarakat AS sendiri untuk mendapatkan pekerjaan.


Menurut laporan lain, COO Facebook Sheryl turut mengemukakan pendapatnya soal kebijakan yang akan menarik pembiayaan dari organisasi bantuan asing yang memberikan konseling tentang pilihan keluarga berencana, termasuk aborsi.

"Hak-hak perempuan adalah hak asasi manusia - dan tidak ada hak yang lebih mendasar dari perawatan kesehatan. Wanita di seluruh dunia layak dukungan kami. "

Sementara itu, Zuckerberg turut mengatakan bahwa dirinya tidak sedang berencana untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Namun jelas, ia masih berencana untuk menggunakan massa, kekuatan dan keberuntungan untuk mendorong kebijakan progresif yang tidak bergantung pada mengubah Amerika dan negara-negara di dunia terhadap satu sama lain.