Jelang Pilpres, Prancis Paksa Facebook cs Atasi Konten Palsu

Bintoro Agung Sugiharto, CNN Indonesia | Selasa, 07/02/2017 10:53 WIB
Ada delapan media yang disertakan Facebook dalam memberantas berita palsu di Prancis yakni Agence France-Presse (AFP), BFM TV, L'Express, dan Le Monde. Ilustrasi (Foto: REUTERS/Dado Ruvic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Facebook menggandeng delapan organisasi media di Prancis untuk memerangi isu berita palsu. Bersama Google, keduanya dituding bertanggung jawab atas peredaran berita palsu di Prancis.

Berdasarkan laporan Reuters (7/2), setidaknya ada delapan media yang disertakan Facebook dalam program pemberantasan berita palsu di antaranya Agence France-Presse (AFP), BFM TV, L'Express, dan Le Monde.

Sistem yang akan diadopsi Facebook akan lebih banyak mengandalkan partisipasi publik. Facebook berharap banyak pada pengguna untuk melaporkan konten berita palsu ke media yang mereka ajak kerja sama sebagai penguji fakta.



Sebelumnya, Facebook telah meluncurkan fitur yang mempermudah pelaporan konten negatif ke beberapa kategori. Bersama mitra media, mereka juga menampilkan peringatan dan rujukan alternatif terhadap informasi dengan kadar fakta meragukan.

Facebook merupakan jejaring sosial terbesar di Prancis dengan 24 juta pengguna atau lebih dari sepertiga populasi negeri.

Sementara itu, Google mengambil cara berbeda memerangi peredaran hoax di Prancis. Mereka menginisiasi "CrossCheck", sebuah platform khusus untuk menyelidiki konten mencurigakan.

Terdapat 17 media lokal Prancis yang ikut dalam program Google itu termasuk AFP dan stasiun televisi nasional mereka.


Prancis akan menggelar pemilihan presiden pada 23 April mendatang. Pemerintah setempat khawatir berita-berita palsu makin membesar di situasi politik yang memanas jelang pemungutan suara.

Bukan hanya pemerintah Prancis, alasan yang sama juga tercermin dari kerasnya otoritas Jerman terhadap Facebook dan perusahaan raksasa internet lainnya. Mereka bahkan mengancam membuat undang-undang untuk mendenda platform yang membiarkan berita palsu menyebar ke publik.

Sementara di kampung halamannya, Facebook mengajak organisasi penguji fakta Snopes dan media massa seperti ABC News dan Associated Press (AP) untuk memeriksa keabsahan suatu informasi. (evn/evn)