UJI PRODUK
Galaxy J7 Prime, Trik 'Tambal Sulam' Khas Samsung
Bintoro Agung Sugiharto | CNN Indonesia
Jumat, 10 Feb 2017 13:54 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- November 2016 silam, Samsung menambah lini ponsel segmen menengah dengan merilis Galaxy J7 Prime. Ponsel cerdas ini merupakan upgrade dari seri yang sama yang tampil di Indonesia di tahun yang sama.
Imbuhan kata 'Prime' bisa jadi karena rilis varian tersebut berada di tahun yang sama dengan J7 edisi 2016. Dibanding edisi 2016, tak banyak fitur baru yang ditawarkan Samsung di J7 Prime.
Namun secara keseluruhan, satu fitur baru berupa pemindai sidik jari dan desain yang cukup elegan sejalan dengan konsep Prime yang diusung Samsung. Untuk melihatnya lebih lanjut, CNNIndonesia.com berkesempatan mengulik kebolehan J7 Prime.
Desain Kokoh
Konsep prime, yang berarti terbaik atau utama, tampak terwakili dari desain J7 Prime yang cukup menawan. Menggunakan material metal di sekujur bodi, J7 Prime terkesan kokoh dan tegas.
Namun penggunaan bahan metal tadi kadang bermasalah ketika dipakai orang dengan tangan yang mudah berkeringat. Akibatnya ponsel kadang terasa licin.
Samsung juga memakai desain unibodi sehingga pengguna J7 Prime tidak bisa melepas baterai ponsel. Desain unibodi biasa hadir di ponsel dengan harga premium hingga flagship, ada kesan serupa yang ingin dihadirkan di J7 Prime.
Dari segi dimensi pun tak ada perubahan berarti dari edisi sebelumnya. Samsung tetap mengusung layar 5,5 inci, sama seperti J7 2016 hanya disertai beberapa perubahan kecil.
Perubahan kecil itu termasuk penempatan speaker yang sebelumnya berada di sisi kiri ponsel yang kini terletak di atas tombol kunci layar sekaligus power. Di seri J7 2016, speaker berada di punggung ponsel, di sebelah kamera belakang.
Namun ketika mengoperasikan dengan satu tangan, posisi pengeras suara itu terasa tidak pas. Pasalnya letak speaker ini sangat terjangkau posisi jari ketika memegang ponsel satu tangan.
Ini bisa dirasakan ketika menonton video di YouTube, tiba-tiba volume suara kendor akibat speaker terhalang jari kita. Hal ini sangat mengganggu ketika memegang ponsel dengan satu tangan sambil mendengarkan audio melalui speaker.
Samsung mengenakan tombol Home fisik di J7 Prime. Di tombol ini pula alat pindai sidik jari yang jadi jualan utama disematkan oleh Samsung.
Sempat terbersit kesan biasa saja, nyatanya pemindai sidik jari di J7 Prime bekerja begitu prima. Sensitivitas tombol Home memindai sidik jari kita terasa begitu baik. Tak perlu bersusah payah mencari letak pas, sensor J7 Prime relatif cepat dan mulus dalam mengenali sidik jari penggunanya.
Tampilan Layar Menurun
Bahkan teknologi layar Super AMOLED (720 x 1280 pixel) di edisi sebelumnya justru digusur dengan layar PLS TFT (1080 x 1920 pixel). Memang dari resolusi dan kepadatan gambar, TFT lebih unggul ketimbang Super AMOLED.
Namun perlu diingat Super AMOLED menghasilkan gambar lebih jernih, lebih kontras, dan hemat daya daripada PLS TFT. Lagipula PLS TFT lebih sering dipakai di ponsel bujet, berbanding terbalik dengan Super AMOLED yang laris dipakai ponsel premium dan flagship.
Saat memutar video yang warna kaya, gambar yang keluar bagus. Tapi untuk ukuran layar 1080p, sekadar bagus jelas bukan hal istimewa.
Bersambung ke halaman selanjutnya..
Imbuhan kata 'Prime' bisa jadi karena rilis varian tersebut berada di tahun yang sama dengan J7 edisi 2016. Dibanding edisi 2016, tak banyak fitur baru yang ditawarkan Samsung di J7 Prime.
Namun secara keseluruhan, satu fitur baru berupa pemindai sidik jari dan desain yang cukup elegan sejalan dengan konsep Prime yang diusung Samsung. Untuk melihatnya lebih lanjut, CNNIndonesia.com berkesempatan mengulik kebolehan J7 Prime.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: CNN Indonesia/Bintoro Agung) |
Konsep prime, yang berarti terbaik atau utama, tampak terwakili dari desain J7 Prime yang cukup menawan. Menggunakan material metal di sekujur bodi, J7 Prime terkesan kokoh dan tegas.
Namun penggunaan bahan metal tadi kadang bermasalah ketika dipakai orang dengan tangan yang mudah berkeringat. Akibatnya ponsel kadang terasa licin.
Dari segi dimensi pun tak ada perubahan berarti dari edisi sebelumnya. Samsung tetap mengusung layar 5,5 inci, sama seperti J7 2016 hanya disertai beberapa perubahan kecil.
Perubahan kecil itu termasuk penempatan speaker yang sebelumnya berada di sisi kiri ponsel yang kini terletak di atas tombol kunci layar sekaligus power. Di seri J7 2016, speaker berada di punggung ponsel, di sebelah kamera belakang.
(Foto: CNN Indonesia/Bintoro Agung) |
Ini bisa dirasakan ketika menonton video di YouTube, tiba-tiba volume suara kendor akibat speaker terhalang jari kita. Hal ini sangat mengganggu ketika memegang ponsel dengan satu tangan sambil mendengarkan audio melalui speaker.
Samsung mengenakan tombol Home fisik di J7 Prime. Di tombol ini pula alat pindai sidik jari yang jadi jualan utama disematkan oleh Samsung.
Sempat terbersit kesan biasa saja, nyatanya pemindai sidik jari di J7 Prime bekerja begitu prima. Sensitivitas tombol Home memindai sidik jari kita terasa begitu baik. Tak perlu bersusah payah mencari letak pas, sensor J7 Prime relatif cepat dan mulus dalam mengenali sidik jari penggunanya.
Tampilan Layar Menurun
Bahkan teknologi layar Super AMOLED (720 x 1280 pixel) di edisi sebelumnya justru digusur dengan layar PLS TFT (1080 x 1920 pixel). Memang dari resolusi dan kepadatan gambar, TFT lebih unggul ketimbang Super AMOLED.
Foto: CNN Indonesia/Bintoro Agung) |
Saat memutar video yang warna kaya, gambar yang keluar bagus. Tapi untuk ukuran layar 1080p, sekadar bagus jelas bukan hal istimewa.
Bersambung ke halaman selanjutnya..
Performa
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
Foto: CNN Indonesia/Bintoro Agung)
(Foto: CNN Indonesia/Bintoro Agung)
Foto: CNN Indonesia/Bintoro Agung)
Foto: CNN Indonesia/
Foto: CNN Indonesia/