Laporan dari Manila

Hoax Pilkada Jakarta 'Terbangkan' Tim Cimol ke Manila

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Selasa, 25/04/2017 12:07 WIB
Hoax Analyzer yang terinspirasi dari maraknya berita hoax saat Pilkada DKI Jakarta menginspirasi tim Cimol dari ITB. Aplikasi Hoax Analyzer yang dikembangkan tim Cimol dari ITB mewakili Indonesia di ajang Imagine Cup 2017. (Foto: CNN Indonesia/Bintoro Agung Sugiharto)
Manila, CNN Indonesia --
Finalis Imagine Cup 2017 asal Indonesia mengaku kesal bukan main terhadap hoax. Kekesalannya ini terutama dipicu oleh berita hoax yang tersebar lewat aplikasi chat dan media sosial. Hal itu jadi salah satu pemicu utama bagi mereka menciptakan perangkat lunak pendeteksi informasi hoax.

Adinda Putra (21) begitu resah ketika informasi palsu marak berkeliaran saat Pilkada DKI Jakarta putaran pertama akan berlangsung. 
Ia merasa linimasa jejaring sosialnya disesaki oleh informasi yang cenderung ofensif dan tak jarang masuk ke kategori hoax.

Saking kesalnya dengan situasi saat itu, Adi tak segan memblokir akun sejumlah temannya di Facebook. Adi, ia biasa disapa, adalah salah satu personel tim Cimol dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang mewakili Indonesia di ajang Imagine Cup 2017 di Manila, Filipina.


Selain Facebook, Adi juga merasakan gelombang hoax yang ia saksikan makin banyak di WhatsApp yang biasanya muncul dalam bentuk pesan berantai. "Media sosial saya jadi tidak sehat, tidak nyaman buat saya," ungkap Adi kepada CNNIndonesia.com, di malam final Imagine Cup 2017 di Manila, Senin (24/4).


Seperti diketahui, masa kampanye pemilihan gubernur Jakarta tahun ini jadi salah satu yang terburuk yang pernah tercatat di Indonesia. Topik agama dan rasisme turut 'meramaikan' pesta demokrasi di Jakarta tersebut.

Namun kekesalannya itu ternyata membawa berkah. Bersama Tifani Warnita (21) dan Feryandi Nurdiantoro (21), mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut menciptakan Hoax Analyzer, perangkat lunak berbasis web yang mampu mendeteksi keabsahan suatu informasi.

Hoax Analyzer buatan tim Cimol bekerja dengan memanfaatkan machine learning dan natural language processing (NLP). Dengan dukungan teknologi itu, mereka berniat memudahkan masyarakat untuk mengetahui kebenaran informasi yang diterimanya.

Secara sederhana Hoax Analyzer adalah automasi proses cross checking dengan bantuan NLP dan machine learning," ucap Adi.

Meski sempat ragu untuk mengeksekusi proyek ini, ketiga mahasiswa itu akhirnya meyakinkan diri untuk mengajukannya ke babak penyisihan kompetisi Imagine Cup 2017 tingkat nasional. 

Setelah mengalami perbaikan sana-sini, tim Cimol justru berhasil melenggang hingga babak final di Jakarta. Kemenangannya ini membuat tim Cimol berhak terbang ke Manila untuk mengikuti kontes tingkat regional.

Pada babak penyisihan regional ini, tim Cimol berhadapan dengan perwakilan dari enam negara di Asia Tenggara dan tiga negara di Asia Selatan. Mereka memperebutkan salah satu tiket menuju Seattle, Amerika Serikat. Di Seattle, pemenang akan bertanding dengan kontestan final dari belahan dunia lain. Mereka yang memenangi kompetisi akhir di Seattle berhak mengantongi US$100 ribu atau sekitar Rp1,3 miliar.

Sementara itu Feryandi, yang biasa dipanggil Fery, tak begitu memikirkan hasil akhir apalagi hadiah juara. Ia cuma berharap perangkat lunak yang ia dan temannya buat bisa berguna di masyarakat. "Awalnya cuma untuk lomba, tapi kalau hasil akhirnya (Hoax Analyzer) bisa dipakai kita bakal senang," ucap Fery.

Sebagai buktinya, ketiga anak muda tersebut berjanji tidak akan mengambil keuntungan dari proyek ini. Mereka juga berancang-ancang membuka source code Hoax Analyzer, agar aplikasi ini bisa dikembangan lebih jauh oleh banyak orang.