Catatan dari Filipina

Plus dan Minus Pendeteksi Hoax Buatan Mahasiswa ITB

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Selasa, 02/05/2017 15:13 WIB
Meski memiliki kelebihan karena mampu membantu menekan penyebaran berita palsu, platform Hoax Analyzer dinilai masih ada kekurangan. Tim Cimol dari Institut Teknologi Bandung yang mengembangkan platform pemberantas informasi palsu, Hoax Analyzer. (Foto: CNN Indonesia/Bintoro Agung Sugiharto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Meski masih bersifat purwarupa, situs pendeteksi hoax atau Hoax Analyzer yang memenangi kompetisi Imagine Cup 2017 di Manila, kemungkinan bisa digunakan untuk publik luas dalam waktu dekat.

Nigel Parker, Director Developer Experience (DX) Micorosoft Selandia Baru yang menjadi salah satu juri di Imagine Cup di Manila lalu menyatakan perangkat lunak ciptaan tim Cimol asal Institut Teknologi Bandung (ITB) menjadi penting karena dunia sedang menghadapi fenomena serupa.

Parker menggarisbawahi potensi Hoax Analyzer sebagai platform yang memperlambat reaksi dan emosi masyarakat ketika melahap suatu informasi yang tidak meyakinkan. Masalahnya, hal pertama yang paling merepotkan dari hoax adalah penyebarannya yang begitu cepat.


Tidak sedikit peselancar di internet yang tak sengaja berpapasan dengan kabar informasi dan terperangkap dengan kebenaran palsunya. Ada pula yang sadar akan kebohongannya tapi berpura-pura tidak tahu karena mereka membutuhkannya untuk menjustifikasi kepercayaannya.

Dari sana, kabar hoax memiliki 'peluang bisnis'. Parker mengingatkan bagaimana kriminal siber memakai hoax untuk meraup keuntungan makin banyak seperti dengan teknik phishing.

"Saya melihat penyebaran itu sebagai teknik baru untuk mengendalikan opini massa. Berita palsu juga dipakai untuk menjustifikasi anggapan yang salah dan mereka (tim Cimol) punya peran menghambat semua itu," ucap Parker kepada CNNIndonesia.com.

Kelemahan Hoax Analyzer

Sebelumnya tim Cimol mengaku perangkat yang mereka ciptakan masih punya kekurangan, mulai dari menangkap konteks dari informasi yang diuji hingga ketergantungan terhadap media sebagai sumber rujukan.

Sementara Parker juga menyadari hal itu, ia lebih menyoroti penggunaan label 'fact' dan 'hoax' di aplikasi Hoax Analyzer. Menurutnya penggunaan label seperti itu terlalu definitif.

"Perbaikan yang mungkin adalah mengubah bahasa kesimpulan yang sekarang 'fact' atau 'hoax' yang sangat definitif seperti halnya 'benar' atau 'salah'," ucapnya.

Parker mencontohkan dengan memasukkan teks 'apakah Tuhan nyata'. Hasil analisis Hoax Analyzer menunjukkan teks itu fakta dengan persentase 54,47 persen dan itu artinya 45,53 persen keberadaan Tuhan sebagai hoax. Hal itu terjadi karena machine learning menangkap maksud kata kunci teks tanpa konteks yang dimaksud.

Contoh lainnya adalah kesimpulan Hoax Analyzer atas query 'Basuki Tjahaja Purnama menang Pilkada DKI Jakarta 2017'. Situs Hoax Analyzer menyimpulkan pernyataan tersebut sebagai fakta dengan skor 63,95 persen. Padahal seperti diketahui umum, dalam penghitungan awal calon gubernur Basuki Tjahaja Purnama kalah oleh Anies Baswedan di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017.

Alih-alih menempelkan label pada sumber referensi yang bersifat hitam-putih seperti itu, ia beranggapan sebaiknya Hoax Analyzer menampilkan referensi dengan label 'mendukung' dan 'tidak mendukung' hasil kesimpulannya.

Kerawanan lain yang terlihat di mata Parker adalah ketika platform tersebut sudah mulai dipercaya orang, penjahat di internet bisa memanfaatkannya untuk sengaja memperbanyak konten bohong agar nanti bisa terbaca sebagai fakta.

"Tantangan yang mereka punya adalah karena mereka pakai machine learning dan pakai referensi di internet jadi pasti ada risikonya. Dan masalahnya ketika orang sudah percaya dengan platform ini mereka mungkin bisa jadi target orang yang berusaha menyebarkan disinformasi," lanjut Parker yang juga mengurusi kompetisi Imagine Cup di Selandia Baru.

Sebelumnya tim Cimol yang beranggotakan Adinda Putra (Adi), Tifani Warnita (Tifa), dan Feryandi Nurdiantoro (Fery) juga mengakui kelemahan yang masih hinggap di prototype Hoax Analyzer.

"Belum berfungsi sebagai fact checking dan masih bergantung kepada media. Selain itu Hoax Analyzer harus independen dari media karena media adalah sumber rujukan kami. Tidak enaknya, di Indonesia tak punya organisasi pemeriksa fakta seperti Snopes di Amerika," ujar ketiganya saat wawancara dengan CNNIndonesia.com.

Berkesempatan Menang

Parker menilai Hoax Analyzer punya potensi sangat jauh untuk dikembangkan. Ia yakin dalam waktu enam pekan ke depan bakal banyak pihak yang mau menawarkan diri membantu mengembangkan Hoax Analyzer sebelum tim Cimol tampil di panggung final dunia Imagine Cup 2017 di Seattle, Amerika Serikat.

Ia juga memuji Hoax Analyzer secara pribadi. Menurutnya inovasi mereka sanggup menerjemahkan masalah seputar hoax dengan cara baru dan menawarkan solusi yang dibutuhkan banyak orang di seluruh dunia.

"Saya merasa mereka benar-benar menonjol dan pantas juara di tingkat ASEAN. Mereka punya posisi yang bagus karena di dunia sedang menghadapi masalah yang solusinya mereka tawarkan," pungkas Parker soal kesempatan tim Cimol di kompetisi final pada Juli nanti.

Seperti diberitakan sebelumnya, tim Cimol dengan Hoax Analyzer-nya berhasil menjuarai Imagine Cup 2017 untuk kawasan Asia Tenggara. Mereka jadi tim pertama yang berhasil menjuarai kompetisi bergengsi dari Microsoft yang pertama kali diadakan di level Asia Tenggara.