Tarif Data di Indonesia, Murah atau Mahal?

Susetyo Dwi Prihadi, CNN Indonesia | Senin, 08/05/2017 12:23 WIB
Bila dilihat dari kinerja perusahaan, sebetulnya mahal atau tidaknya tarif internet di Indonesia terbilang relatif. Begini hitung-hitungannya. Ilustrasi BTSS (Foto: ANTARA FOTO/HO)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pekan lalu, mendadak isu tarif internet atau data bagi pelanggan seluler muncul ke permukaan. Dua kubu jelas terbentuk, menganggap kemahalan atau terbilang murah.

Mahal atau tidak sebetulnya relatif, apalagi bila dilihat dari kacamata analis saham yang memantau perkembangan kinerja perusahaan telekomunikasi di Bursa Efek Indonesia.

Victoria Venny, analis saham dari MNC Securites menilai harga internet di Indonesia masih terbilang murah dibandingkan negara-negara lain di dunia. Padahal di negara-negara emerging markets dan berkembang yang sudah mematok tinggi.


Dia mengambil contoh, perusahaan telekomunukasi di India menjual paket internetnya antara Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Sedangkan ATT dan T-Mobile, rata-rata paket yang mereka jual antara Rp 900 ribu hingga Rp 1 juta.

Sedangkan untuk Singtel, rata-rata paket yang mereka keluarkan seharga Rp 300 ribu hingga Rp 600 ribu. Sedangkan di Indonesia tarif internet yang dijual oleh operator dalam bentuk paket data dibandrol antara Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu.

"Memang mereka mematok harga paket internet yang mahal dikarenakan kualitasnya dan keterjangkauannya jauh lebih baik ketimbang operator yang ada di Indonesia,” kata venny, saat berbincang.

Dengan harga tersebut mereka bisa menjaga kualitas dan keterjangkauan. Dia mengatakan seharusnya BRTI dapat mengatur tarif internet agar keterjangkauan dan kualitas layanan operator telekomunikasi dapat selalu terjaga.

Setali tiga uang. Raymond Kosasih, CFA analis dari PT Deutsche Verdhana Sekuritas Indonesia mengatakan bahwa harga paket data di Indonesia berada di harga Rp 14 hingga Rp 23 untuk setiap Mb.

Padahal di tahun 2011 harga data di Indonesia pernah mencapai Rp 350 per mega byte (Mb).

“Kami percaya bahwa kenaikan harga data sangat penting untuk meningkatkan profitabilitas industri yang sehat. Kenaikkan bisa dimulai dari Rp 1 untuk setiap Mb. Kenaikkan tersebut cukup realistis karena adanya peningkatan daya beli masyarakat,” jelas Raymond dalam hasil research yang dipublikasikan 5 Mei yang lalu.

Dari kalkulasi yang dibuat Raymond, dengan kenaikkan tarif data Rp 1 per Mb, maka akan meningkatkan ARPU (average revenue per user) XL dan Indosat sebesar Rp 1000 perbulan.
Foto: CNN Indonesia/ Susetyo Dwi Prihadi

Sedangkan kenaikkan tarif data Rp 1 per Mb akan meningkatkan ARPU Indosat sebesar Rp 600 per bulan.

Selain untuk menjaga keterjangkauan dan kualitas, pengaturan harga oleh regulator dinilai Venny diperlukan agar operator telekomunikasi tidak melakukan ‘perang harga’.

Jika banting-bantingan harga paket data ini terus dilakukan, maka bisa dipastikan kinerja keuangan emiten telekomunikasi akan tergangu.

Venny menilai jika perang harga data terus dilakukan oleh operator, pendapatannya tidak akan mengcover beban usahannya. Sehingga ujung-ujungnya nanti yang akan dikorbankan adalah kualitas dan pelayanan kepada pelanggan juga.

Ini berimbas juga pada pembanganunan atau coverage operator dari satu wilayah yang berbeda.

“Sehingga wajar saja jika tarif Indosat dan XL jauh lebih murah ketimbang Telkomsel yang menjadi agen pembangunan pemerintah. Ini yang membuat biaya produksi Telkomsel akan berbeda dengan Indosat dan XL,” kata Venny.
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK