Sejarah Berubah, Fosil Manusia Tertua Ditemukan di Maroko

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Jumat, 09/06/2017 18:10 WIB
Tim antropolog baru-baru ini menemukan fakta baru mengenai asal muasal manusia, terhadap 22 fosil Homo Sapiens di Maroko yang usianya lebih dari 300 ribu tahun. Ilustrasi manusia purba (Foto: CNNIndonesia/Windratie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Para antroplog selama ini meyakini bahwa manusia berkembang dari daratan Afrika Timur sejak 200 ribu tahun lalu. Keyakinan ini telah berlangsung selama dua dekade berkat berbagai macam penelusuran bukti genetik dan data dari catatan fosil.

Namun, penemuan terbaru telah menunjukkan bukti lain yang membuat para ilmuwan harus menulis ulang sejarah baru mengenai asal muasal manusia. Dalam penelitian yang dipublikasikan di Nature, tim peneliti internasional telah mendeskripsikan penemuan terhadap 22 fosil Homo Sapiens di Maroko yang usianya sudah lebih dari 300 ribu tahun.

Menurut para periset, fosil tersebut adalah yang paling tua yang pernah ditemukan sepanjang sejarah. Menariknya, fosil ini ditemukan di lokasi yang tidak diduga-duga dari keberadaan manusia.


Fosil tertua sebelumnya yang berusia 260 ribu juta tahun ditemukan di Afrika Selatan. Sedangkan, penemuan tertua lainnya yang berusia 195 ribu tahun ditemukan di Etiopia.

Namun penemuan kali ini membuat keraguan bahwa manusia benar-benar berasal dari Benua Afrika 200 ribu tahun silam.

"Penemuan kami menantang gambaran ini dalam beberapa cara," kata ahli paleoantropologi Jean-Jacques Hublin dari Institut Antropologi Evolusioner Max Planck di Jerman, yang memimpin penelitian tersebut. "Tidak ada Taman Eden di Afrika, atau jika ada Taman Eden, itu adalah Afrika. Taman Eden seukuran Afrika. "

Tidak semua fosil yang digambarkan adalah penemuan baru. Enam dari 22 spesimen sudah ditemukan pada 1960-an karena pertambangan di lokasi sekitar Marakkesh dan pantai Atlantic Maroko.

Pada saat penemuan awal, para ilmuwan menyimpulkan bahwa fosilnya berusia sekitar 40 ribu tahun. Namun, Marean beranggapan periode itu sepertinya tidak terasa akurat jika dilihat dari bentuk tulang fosil yang tampak terlalu primitif untuk usia mereka yang relatif muda.

Selain itu, bukti tanaman dan hewan yang ditemukan di lokasi yang sama dengan tulang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada di daerah tersebut 40 ribu tahun lalu.

Hublin dan rekan-rekannya juga merasa bahwa fosil itu tidak akurat dan ingin melakukan sesuatu. Mereka mengunjungi Jebel Irhoud beberapa kali sepanjang tahun 1980an dan 90an hingga akhirnya secara resmi memulai penggalian pada 2004.

Para periset percaya bahwa situs tersebut dulunya adalah sebuah gua yang kemungkinan menyediakan tempat berlindung bagi sekelompok kecil manusia purba yang datang untuk berburu rusa dan zebra.

Alat batu api mereka diasah menjadi bentuk-bentuk runcing yang mungkin merupakan ujung tombak. Alat tersebut nampaknya dibuat dari bahan yang dikumpulkan paling tidak sejauh 15 mil.

"Ini menunjukkan bahwa mereka mengunjungi lokasi berkualitas tinggi untuk mengumpulkan batu api dan kemudian membawanya ke tempat-tempat seperti situs Jebel Irhoud di mana mereka bisa berhenti dan melengkapi kembali persenjataan mereka," kata Shannon McPherron, arkeolog di Institut Plasma Maxplanck untuk Antropologi Evolusioner.

Selama riset, tim menemukan 16 tulang hominin tambahan, serta artifak batu yang sesuai Middle Stone Age. Mereka juga menemukan tulang rusa yang menunjukkan bahwa hewan tersebut sengaja disembelih dan dimasak di atas api.
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK