Bagaimana Kehidupan Seks Koloni Manusia di Mars?

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Sabtu, 17/06/2017 01:52 WIB
Bagaimana Kehidupan Seks Koloni Manusia di Mars? Simulasi lingkungan hidup di Mars (Foto: Dok. HI-SEAS/University of Hawaii)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak lama lagi, manusia akan melakukan perjalanan ke Mars untuk meneliti kondisi Planet Merah itu lebih dekat. Mars memang menjadi salah satu kandidat paling kuat untuk habitat manusia, selain Bumi.

Namun jika manusia ingin berkoloni di sana, seks di luar angkasa dipandang sebagai aspek yang krusial untuk dijadikan obyek penelitian.

Agensi antariksa dunia baru-baru ini telah mengembangkan berbagai teknologi untuk membawa manusia ke angkasa. Namun panel webcast George Washington University yang berjudul 'On the Launchpad: Return to Deep Space' menunjukkan bagaimana studi tentang seks di angkasa masih sangat terbatas.

"Ini adalah sesuatu, yang jujur, belum kita teliti secara dramatis karena belum relevan hingga hari ini. Namun jika kita ingin menjadi spesies yang bepergian ke angkasa dan kita ingin hidup di luar angkasa secara permanen, ini hal krusial yang harus kita tanggapi," ujar Kris Lehnhardt, asisten profesor di fakultas pengobatan darurat di GW University seperti dicatat Space, Kamis (16/6).


Lebih lanjut, Lehnhardt menjelaskan bahwa memang masih banyak hal yang perlu dipelajari tentang penerbangan manusia ke luar angkasa. Tapi itu juga termasuk bagaimana efek penerbangan pada biologi dan nutrisi manusia. Seks di microgravitasi hingga kini masih misteri.

"Sesuatu yang sama sekali tidak kita ketahui adalah reproduksi manusia di luar angkasa. Tidak hanya bagaimana sistem reproduksi akan beradaptasi di lingkungan antariksa, tetapi jika kita ingin pergi ke mana-mana dan ingin tinggal di sana, jika kita memang mau berkoloni, ada satu komponen kunci untuk berkoloni, hanya itu yang membuatnya mungkin, yakni dengan melahirkan keturunan," kata dia.

Sejauh ini, ilmuwan masih tidak terlalu yakin dengan apa yang terjadi ketika seseorang melahirkan di luar Bumi. Tahun ini, periset Jepang mengungkap bahwa mereka telah sukses menggunakan sperma tikus beku yang dikeringkan untuk dibawa ke Stasiun Luar Angkasa (ISS).

Sperma itu bertahan di ISS selama 9 bulan dan menghasilkan bayi-bayi tikus sehat.

Penelitian ini menunjukkan bahwa reproduksi di luar Bumi sangat mungkin bahkan di tempat yang radiasinya sangat ekstrem. Bayi-bayi tikus itu kemudian dikembalikan dan dibesarkan di Bumi.

Kendati demikian, hal berbeda bisa saja terjadi pada manusia. Sebuah film berjudul 'Space Between Us' sempat menggambarkan bagaimana anak yang lahir di Mars tidak dapat hidup di Bumi karena perbedaan anatomi tubuh yang membuatnya tak mampu beradaptasi dengan gravitasi Bumi.