Studi: Media Sosial Sasaran Pertempuran Politik Kotor

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Rabu, 21/06/2017 09:30 WIB
Studi: Media Sosial Sasaran Pertempuran Politik Kotor Ilustrasi (Foto: Thinkstock/flyparade)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peredaran berita hoax melalui media sosial memicu sejumlah studi mengenai kaitan antara kedua dan tujuan di balik penyebar informasi. Salah satu studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari University of Oxford mengungkap media sosial jadi sarang petempuran internasional hingga propaganda untuk politik kotor.

Layanan Facebook dan Twitter diketahui kerap menjadi sasaran untuk ekstrimis menyebarkan paham mereka ke seluruh dunia. Studai yang dilakukan di seluruh dunia termasuk Rusia hingga Taiwan menungkap fakta mengejutkan.

Sekitar 45 persen akun Twitter di Rusia sangat aktif, namun belakangan diketahui ada keterlibatan bot. Sementara Taiwan menggunakan ribuan akun media sosial yang sangat terkoordinir sebagai alat kampanye melawan Presiden Tsai Ing-wen dan propaganda daratan China.


Laporan yang merupakan bagian dari proyek riset Propaganda Computational Oxford Internet Institute melibatkan pengguna media sosial di sembilan negara termasuk Brazil, Kanada, China, Jerman, Polandia, Ukraina, hingga Amerika Serikat.

Tim peneliti kemudian enemukan adanya propaganda tradisional berisi 'kebohongan, informasi sampai, hingga kesalahan informasi' yang tersebar secara online dan didukung oleh algoritma Facebook dan Twitter.

Menurut Philip Howard, Profesor Studi Internet di Oxford, teknik yang digunakan meliputi akun otomatis untuk menyukai, berbagi dan posting di media sosial. Akun semacam itu dapat digunakan untuk permainan algoritma demi mendorong konten ke feed media sosial yang dikuratori. Misalnya, seperti feed Facebook dan Twitter.

Mereka dapat memantik debat di dunia nyata dan menipu pengguna media sosial. Bot juga bisa menampakkan dukungan secara online, seperti jumlah suka yang terlihat lebih besar sehingga tercipta ilusi popularitas.

Para periset menemukan bahwa di AS, teknik ini merupakan bentuk politik kotor yang penelitiannya dikerjakan Samuel Woolley, direktur riset proyek tersebut. Dia mendefinisikan "konsensus manufaktur" sebagai upaya menciptakan ilusi popularitas sehingga kandidat politik dapat "bertahan hidup" di tempat yang sebelumnya tidak mereka miliki.

"Ilusi dukungan daring untuk kandidat dapat memacu dukungan aktual melalui efek ikut-ikutan. Trump membuat Twitter menjadi pusat dalam pemilihan [presiden], dan para pemilih memperhatikannya," kata laporan Woolley.

Meski laporan tersebut menemukan hanya beberapa bukti dukungan institusional penggunaan bot, bahkan hanya dengan cara "eksperimental" oleh manajer kampanye partai, Woolley menekankan bahwa upaya itu sama kuatnya dengan media sosial yang memang dikendalikan oleh manusia.

"Bot secara besar-besaran memperbanyak kemampuan seseorang untuk mencoba memanipulasi pengguna yang sesungguhnya," katanya. "Bayangkan temanmu yang menjengkelkan di Facebook, seseorang yang selalu memulai pertengkaran politik. Jika mereka memiliki 'tentara' berupa 5.000 bot, itu akan jauh lebih buruk, bukan?"

Menutip The Guardian, laporan tersebut juga menuding ketidaktertarikan perusahaan media sosial tentang bagaimana jaringan mereka digunakan. Facebook, misalnya, meninggalkan sebagian besar pekerjaan anti-propaganda ke organisasi eksternal seperti Snopes dan Associated Press, yang mengoperasikan tim pengecekan fakta semi-otonom yang bertujuan untuk menandai berita benar atau salah.

Sementara itu, sistem anti-bot Twitter cukup efektif dalam memerangi aktivitas komersial di situs micro blogging-nya. Sayangnya, sistem tersebut tampaknya kurang mampu mencatat akun otomatis yang terlibat dalam aktivitas politik.

Para periset mempresentasikan temuan mereka ke sekelompok perwakilan dari perusahaan-perusahaan teknologi di Palo Alto. Mereka mendorong perusahaan pembesut media sosial untuk bergerak lebih cepat mencegah agar hal serupa tidak semakin masif.