Aplikasi pemandu dinilai akan menguntungkan pengguna dan pemilik layanan. Bagi pengguna, mereka bisa mengetahui waktu tempuh dan perkiraan waktu angkutan tiba. Sementara bagi pemilik layanan akan terbantu dari segi informasi yang perlu mereka sediakan untuk pelanggan.
Bentuk dorongan Budi untuk penggunaan aplikasi adalah kolaborasi yang pemerintah lakukan bersama Moovit. Moovit adalah aplikasi asal Amerika Serikat yang menyediakan informasi seputar angkutan bertrayek.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Kisah Kudo Ngebut Bikin Aplikasi 'Ayo Mudik' |
Ia mengakui pemerintah perlu bekerja sama dengan penyedia teknologi seperti Moovit. Budi memuji langkah yang sudah dilakukan oleh Transjakarta. Seperti diketahui, Transjakarta telah terlebih dahulu bekerja sama dengan Trafi, aplikasi sejenis Moovit yang memandu pengguna moda transportasi umum.
"Terus-terang itu dibuat-buat," imbuh Budi.
Di tempat yang sama, perwakilan Organda berjanji bakal bekerja sama dengan Moovit. Hally Hanafiah dari Kepala Departemen Angkutan Barang Organda mengaku bakal menyegerakan komitmennya sesuai permintaan pemerintah.
"Kita menyikapi agar terlibat dalam aplikasi tersebut," ujar Hally.
Pengumuman kerja sama Kementerian Perhubungan dengan Moovit ini diikuti dengan tur singkat. Menteri Budi berkeliling Jakarta dengan menaiki tiga transportasi berbeda dari Stasiun Palmerah ke kantornya di Medan Merdeka Barat sesuai rekomendasi aplikasi. Transportasi yang ia gunakan saat itu adalah KRL Commuter Line, Metro Mini 74, dan Transjakarta.