Grab Akan Gelar Mediasi dengan Pendemo di Kemenhub

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Rabu, 05/07/2017 04:51 WIB
Grab Akan Gelar Mediasi dengan Pendemo di Kemenhub Aksi unjuk rasa pengemudi GrabCar hari ini, di gedung Maspion, Jakarta Utara (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Grab Indonesia memberikan tanggapan mengenai niat para mitra pengemudinya yang ingin mengambil jalur hukum jika tuntutan mereka tak digubris. Perusahaan ride sharing tersebut masih mengharapkan mediasi menjadi solusi masalah kedua belah pihak.

"Kami sepakat akan bertemu lagi pada tanggal 10 Juli di Kemenhub. Kami harapkan mediasi tersebut akan ada hasilnya," kata Ridzki Kramadibrata, Manajer Director Grab Indonesia kepada awak media, Selasa (4/7) pasca demo.

Lebih lanjut, hasil rinci mediasi sedang disusun dan akan dipublikasi dalam dua hari ke depan. Grab juga menilai sebenarnya demonstrasi yang terjadi hari ini tak perlu dilakukan.


Sementara itu, LBH Lasmura yang menjadi kuasa hukum pengemudi GrabCar ini sebelumnya juga mengatakan untuk mengedepankan mediasi dan mufakat kedua belah pihak. Namun jika masih tak diindahkan maka akan menempuh jalur hukum.

Nur Adim alias Aris Clowor selaku Ketua Front Driver Online Indonesia mengatakan mediasi antara Grab Indonesia dan pengemudi GrabCar berjalan sangat alot. Pihak Grab yakin membekukan akun-akun nakal sesuai prosedur sedangkan pihak pengemudi menantang Grab untuk membuktikan klaim tersebut untuk selanjutnya mencairkan bonus Lebaran mereka.

Pengemudi yakin tak melakukan kecurangan seperti penggunaan fake GPS atau order fiktif. Lebih dari itu, aturan mengikuti platform lain yang juga jadi alasan akun mereka dibekukan rupanya tidak didasarkan pada aturan tertulis.

Ketika dikonfirmasi, pihak Grab mengatakan kebenaran hal tersebut. Namun, Grab mengatakan perusahaan berharap pengemudi tidak operator taksi online lain.

Jika join dengan platform lain, mitra dianggap tidak lagi bisa fokus pada pelayanan Grab seperti harapan perusahaan karena dampaknya performa pengemudi akan menurun di Grab.

Performa yang menurun karena menginstal aplikasi lain melanggar kode etik perusahaan sehingga pengemudi pun akan gagal masuk dalam kriteria untuk mendapatkan insentif.

"Kami akan menghormati hak-hak mitra pengemudi sesuai dengan syarat dan ketentuan, pelatihan dan kode etik Grab yang diberikan dan disetujui oleh mereka sebagai bagian dari proses ketat penggunaan aplikasi Grab. Berdasarkan pengarahan kepada mitra pengemudi mengenai kode etik Grab dan persyaratan insentif yang telah dilakukan sejak hari pertama mereka bergabung di Grab, pengemudi yang telah melakukan pelanggaran tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan insentif," lanjutnya.

Heri salah satu pengemudi yang ikut turun ke jalan hari ini membenarkan bahwa Grab memang sudah meminta pengemudi untuk tidak menjalankan orderan dari platform lain sejak awal. Namun, sebagai mitra seharusnya pengemudi bebas melakukan join platform lain karena hal itu tidak tertulis dalam peraturan.
Grab Akan Gelar Mediasi dengan Pendemo di Kemenhub
Pendemo memberikan ketupat, sebagai simbol kekecewaan kepada pihak Grab Indonesia (CNN Indonesia/Kustin Ayuwuragil)

Belum lagi dia harus menghadapi kurang transparannya sistem potong saldo Grab ketika ada keluhan. Dia mengatakan siap untuk pemutusan hubungan kemitraan dengan Grab jika masalah ini terus berlarut-larut. Pria asal Jakarta Utara ini dengan gamblang mengatakan berminat gabung ke GoCar karena sistemnya dinilai lebih transparan dibanding GrabCar.

"Sebenarnya sudah dikasih tahu sejak awal bahwa tidak boleh memiliki aplikasi lain. Tapi tidak ada aturannya secara tertulis. Belum lagi pemotongan 20 persen untuk insentif dan 6 persen tiap bulan itu untuk apa juga tidak jelas. Entah untuk pajak atau bayar karyawannya saya juga nggak tahu. Tidak transparan," katanya.

Menurut dia, pengemudi bisa kehilangan saldo antara Rp100.000-750.000 tanpa skema yang ia ketahui persis.

"Kalau sudah begini ya, cari yang lain. Masak nggak cari duit untuk makan. Mungkin saya akan pindah GoCar karena sistemnya lebih transparan," lanjutnya.

Di sisi lain, Ridzki mempersilakan pengemudi untuk bergabung dengan perusahaan taksi online lainnya apabila tidak bisa mematuhi peraturan Grab.

"Sejak mitra pengemudi bergabung bersama Grab kami tidak pernah memaksakan mereka untuk terus berusaha bersama kami dan jika ada hal-hal dalam peraturan serta kode etik Grab yang membuat mereka berkeberatan untuk mematuhinya maka kami mempersilahkan mereka untuk memilih platform ride-hailing lainnya," jawab dia.



BACA JUGA