Mulai dari kebutuhan dana pengembangan yang tak kecil, infrastruktur, dan perangkat yang sulit diperoleh. Untuk mengadopsi konsep kota cerdas juga biasanya membutuhkan waktu yang panjang.
Kota-kota besar seperti Surabaya, Jakarta, dan Bandung, cukup lama mengadopsi konsep kota cerdas. Kota-kota tersebut kini menjadi panutan bagi kota dan kabupaten lain seperti Batam, Banyuwangi, Bojonegoro, dan Bali dalam penerapannya.
Investasi besar
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angka yang tak sedikit bagi kota dan kabupaten yang ingin mengembangkan kota cerdas. Sekaligus angka yang menggiurkan bagi mereka yang ingin berinvestasi di pengembangan teknologi smartcity.
Penyediaan infrastruktur bertahap
Fanky juga mengungkap ada tahapan untuk membangun kota cerdas. Pertama adalah pembangunan infrastruktur dasar, yaitu penyediaan internet. Salah satunya lewat pembangunan jaringan kabel fiber optik.
Rampung dengan infrastruktur dasar, pembangunan pusat pengolahan data jadi fokus berikutnya. Setelah jejaring dan pengolahan data selesai, pemerintah bisa melanjutkan pengembangan dengan memasukkan dan mengolah data kota yang didapat dari sensor, aplikasi, atau lainnya.
Lihat juga:Manusia Cerdas, Langkah Sebelum Kota Cerdas |
Perangkat langka
Masalah lain yang menghadang implementasi adalah harga perangkat yang tinggi dan terbilang sulit diperoleh.
Penyedia solusi teknologi kota pintar didominasi pemain asing, sehingga perlu dana yang tak sedikit untuk membeli perangkat tersebut. Pemain lokal pun masih sangat sedikit yang sanggup bersaing.
"Mungkin impornya harus dikurangi karena teknologi ini masih belum ada di Indonesia dan dibutuhkan," kata Baki Lee, Direktur PT Global Expo Management, saat ditemui di tempat yang sama. (eks)