Indonesia Bisa Lebih Cepat Adopsi Mobil Listrik dari Jepang

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Senin, 06/11/2017 08:21 WIB
Indonesia Bisa Lebih Cepat Adopsi Mobil Listrik dari Jepang Ilustrasi mobil listrik. REUTERS/Steve Marcus
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia dinilai bisa lebih cepat menerapkan kendaraan ramah lingkungan ketimbang Jepang. Sebab, masyarakat Indonesia perlahan sudah mengenal jenis kendaraan berteknologi 'hijau'.

Hal ini diungkap Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono. Sebab menurutnya, Indonesia sudah mulai mengenal kendaraan hybrid hingga bertenaga listrik penuh. Berbeda dari Jepang yang harus memulai sejak awal.

"Kita itu separuh (jalan) saja, kalau di Jepang sendiri kan (sejak) 10 tahun (lalu). Karena apa, kita ini udah akrab sama teknologi itu tidak dari 0. Kan udah mengenal," kata Warih kepada CNNIndonesia.com.


Warih lantas mengusulkan agar pemerintah membuat pembagian zona untuk mobil ramah lingkungan. Hal ini dilakukan agar masyarakat makin teredukasi soal kendaraan ramah lingkungan.

Misal, dengan membuat zona untuk kendaraan hybrid dan listrik di Bandara Soekarno-Hatta. Dengan demikian, masyarakat bisa mencoba kenyamanan mobil ramah lingkungan tersebut.

"Sehingga orang yang masuk bandara akan merasakan, oh hybrid kaya itu. Oh, enak nih. Harga bagus, maintenancenya juga oke. Nah, nanti bakal tertarik," tuturnya.

Cara-cara sosialisasi seperti ini tidak beda seperti saat pertama kali memperkenalkan mobil dengan transmisi otomatis (automatic transition-AT) di Indonesia. Saat itu, banyak masyarakat di dalam negeri yang menolak AT dengan bermacam alasan.

"Katanya otomatis mahal, servis susah. Pas kami edukasi sampai ke diler, akhirnya dengan senang hati orang pada pidah ke AT," ujar dia.

Pergeseran tren

Executive General Manager Toyota-Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto, mengatakan bahwa saat ini dunia otomotif secara global tidak dapat menolak pergeseran terkait kendaraan ramah lingkungan.

"(Negara maju) akan dan beralih ke sana. Tapi pemerintahnya ngedukung dengan pembangunan infrastruktur juga ya," kata Soerjo.

Meski demikian, hingga saat ini baru sebagian negara yang agresif menerapkan mobil ramah lingkungan.

Sebab, dari total produksi mobil listrik, 95 persennya laku hanya di 10 negara, yaitu, China, Amerika Serikat, Jepang, Kanada, Norwegia, Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, dan Swedia.

Pemerintah Indonesia sendiri belum terlalu agresif. Sehingga, sebagai produsen otomotif yang bermain di tanah air, Warih mengungkap pihaknya hanya akan mengikuti ketetapan pemerintah.

Melihat China

China merupakan salah satu pasar terbesar industri otomotif dan menjadi negara yang paling agresif mendorong adopsi mobil listrik.

Warih mengungkap, saat ini China menjadi salah satu negara yang berminat pada aturan melarang mobil disel dan bensin. Wakil Menteri Perindustrian China, Xin Guobin, tengah mempelajari mengenai larangan produksi dan penjualan mesin dengan tenaga fosil.

Rencananya, pemerintah China mematok sekitar 15 persen kendaraan haruslah menggunakan mobil listrik. Pemerintah China bahkan menargetkan industri bisa menjual 7 juta kendaraan listrik pada 2025 nanti.

Tidak hanya itu produsen mobil listrik asal Amerika, yakni Tesla, juga dilaporkan baru saja mendapatkan restu dari pemeritah Shanghai, China untuk membuka pabrik perakitan kendaraan. Tapi, Tesla menampik rumor tersebut. (eks/eks)