Data Dicuri, Uber Sogok Miliaran Agar Peretas Bungkam

Eka Santhika , CNN Indonesia | Rabu, 22/11/2017 09:28 WIB
Data Dicuri, Uber Sogok Miliaran Agar Peretas Bungkam Uber menyebutkan bahwa data pengguna dan pengemudi miliknya diretas tahun lalu. Sebanyak 57juta data pengguna dan supir dicuri (dok. CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Uber mengungkap bahwa data penggunanya telah dibajak. Tapi, perlu waktu setahun bagi Uber untuk bisa mengungkap fakta tersebut. Terdapat 57 juta data pengguna Uber yang berhasil dicuri.

Hal ini diungkap Uber, Selasa (21/11), lewat sebuah tulisan di blognya. Peretasan ini berhasil mencuri data nama pengguna, alamat email, dan nomor telepon dari 50 juta pengguna Uber di seluruh dunia. 

Selain itu, 7 juta sisanya adalah data pengemudi. Dari jutaan pengemudi itu, nomor surat izin mengemudi juga dicuri dari 600 ribu pengemudi.

Namun Uber meyakinkan bahwa data kartu kredit, nomor keamanan sosial, detil perjalanan, atau data lain, tidak dicuri.

"Meski masa lalu tak bisa dihapus, tapi saya berjanji atas nama seluruh karyawan Uber bahwa kami akan belajar dari kesalahan," jelas CEO Uber, Dara Khosrowshahi dalam blog itu. "Kami mengubah cara kami melakukan bisnis."

Fakta ini baru diungkap bukan karena Uber baru mengetahuinya. Bloomberg menyebutkan bahwa mantan CEO Uber, Travis Kalanick sempat diperingatkan soal pembajakan ini pada November 2016. Peringatan ini pun baru keluar sebulan setelah peretasan dilakukan.

Alih-alih melaporkan kejadian peretasan ini, Uber malah menghubungi peretas dan membayar mereka US$100.000 (setara Rp1,3 miliar) untuk membungkam dan meminta mereka menghapus data yang sudah dicuri.

Pada saat peretasan dilakukan, Uber tengah berurusan dengan pihak berwenang di Amerika Serikat (AS) terkait peretasan keamanan lainnya. Namun, peretasan ini tidak ikut dilaporkan.

Peretasan ini terbongkar setelah dewan komisaris melakukan investigasi terhadap aktivitas tim keamanan Uber yang dikepalai oleh Joe Sullivan. Investigasi dilakukan dengan lembaga hukum pihak ketiga ini menemukan adanya peretasan yang tidak diungkap.

Dalam blognya, Uber mengungkap bahwa, "dua orang yang memimpin untuk melakukan respin atas insiden ini tidak lagi bekerja untuk Uber." (eks/eks)