Hal ini diungkap Uber, Selasa (21/11), lewat sebuah tulisan di blognya. Peretasan ini berhasil mencuri data nama pengguna, alamat email, dan nomor telepon dari 50 juta pengguna Uber di seluruh dunia.
Selain itu, 7 juta sisanya adalah data pengemudi. Dari jutaan pengemudi itu, nomor surat izin mengemudi juga dicuri dari 600 ribu pengemudi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meski masa lalu tak bisa dihapus, tapi saya berjanji atas nama seluruh karyawan Uber bahwa kami akan belajar dari kesalahan," jelas CEO Uber, Dara Khosrowshahi dalam blog itu. "Kami mengubah cara kami melakukan bisnis."
Alih-alih melaporkan kejadian peretasan ini, Uber malah menghubungi peretas dan membayar mereka US$100.000 (setara Rp1,3 miliar) untuk membungkam dan meminta mereka menghapus data yang sudah dicuri.
Peretasan ini terbongkar setelah dewan komisaris melakukan investigasi terhadap aktivitas tim keamanan Uber yang dikepalai oleh Joe Sullivan. Investigasi dilakukan dengan lembaga hukum pihak ketiga ini menemukan adanya peretasan yang tidak diungkap.
Dalam blognya, Uber mengungkap bahwa, "dua orang yang memimpin untuk melakukan respin atas insiden ini tidak lagi bekerja untuk Uber." (eks)