Mengenal Sekilas 3 Perusahaan Fintech yang Dicaplok Gojek

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Jumat, 15/12/2017 18:44 WIB
Mengenal Sekilas 3 Perusahaan Fintech yang Dicaplok Gojek Foto: REUTERS/Beawiharta
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah sempat dirumorkan bakal mencaplok Kartuku beberapa bulan terakhir, tak perlu waktu lama Gojek akhirnya mengumumkan telah mencaplok perusahaan fintech tersebut. Selain Kartuk, Gojek sekligus mengakuisisi du dua perusahaan fintech lain yakni Midtrans dan Mapan.

Perusahaan menyebut langkah akuisisi ini bertujuan untuk memperbesar sayap bisnis Gopay. Dalam keterangan tertulis, Gojek mengungkap alasan mencaplok ketiga startup itu untuk memperkuat pembayaran offline, online dan inklusi keuangan. Namun, seperti apa sebenarnya sepak terjang ketiga perusahaan rintisan yang fokus di ranah keuangan tersebut?

Kartuku

Kartuku adalah Penyedia Prosesor Pihak Ketiga (TPP) dan Penyedia Layanan Pembayaran (PSP) yang mengklaim pertama ada di Indonesia. Misinya adalah memberikan solusi pembayaran untuk Indonesia yang ingin mewujudkan masyarakat nontunai.


Dengan meningkatnya transaksi nontunai, timbul masalah baru karena merchant harus menyediakan beberapa Electronic Data Capture (EDC) untuk mengakomodir pelanggan yang memiliki alat pembayaran berbeda-beda. Hal ini menjadi celah bagi Kartuku yang menyediakan teknologi EDC yang bisa menerima pembayaran baik melalui kartu, QR code scan, e-money dan sebagainya.

Kartuku sendiri didirikan oleh Niki Luhur dan diluncurkan pada 2011. Sejak itu, Kartuku menumbuhkan basis pelanggan dan jaringan merchant-nya dengan sangat cepat.

Kartuku saat ini melayani hampir 100 perusahaan retail di Indonesia. Pihaknya juga mengoperasikan lebih dari 150 ribu alat pembayaran di gerai offline, serta bermitra dengan sembilan bank acquirer. Kartuku juga berintegrasi dengan bank-bank issuer, penyedia layanan dompet digital (e-money), serta menyediakan layanan tambahan berupa promosi dan voucher.

Kartuku telah menjangkau 379 kota di Indonesia dan memiliki 59 poin layanan. Thomas Husted yang bergabung dengan Kartuku pada 2015, memimpin perusahaan sejak 2016.
Midtrans

Midtrans awalnya dikenal dengan nama Veritrans. Mereknya diubah sejak Oktober 2016 seiring dengan fokus baru perusahaan yang kini lebih menggarap pembayaran digital, yaitu layanan pembayaran, manajemen risiko dan chat commerce.

Perusahaan ini pertama kali didirikan oleh Ryu Suliawan pada 2012. Dalam hal pembayaran online, Midtrans bermitra dengan bank-bank di tanah air, maskapai penerbangan, bisnis retail e-commerce, dan perusahaan-perusahaan fintech.

Perusahaan saat ini bekerja dengan lebih dari 3.000 merchant online (ecommerce). Midtrans mampu memproses 18 metode pembayaran online yang berbeda-beda termasuk melalui kartu kredit, debit, transfer ATM, e-wallet dan pembayaran di counter seperti Indomaret.

Khusus untuk chat commerce, Midtrans juga memiliki produk chatbot customer service, Prism, yang digunakan di beberapa ecommerce tanah air, termasuk Berrybenka.
Mapan

Aplikasi ini bakal digunakan Gojek untuk menyasar masyarakat di pedesaan yang tak tersentuh bank, tak memiliki kartu kredit namun akrab dengan sistem arisan konvensional. Mapan dikembangkan oleh RUMA yang fokus mengelola jaringan perusahaan mikro.

Adalah Aldi Haryopratomo yang mendirikan Mapan pada 2009. Kini perusahaan telah memiliki hampir 2.000 karyawan. Mapan sendiri telah membantu mengatur keuangan lebih dari 1 juta keluarga Indonesia di lebih dari 100 kota.

Aplikasi ini memungkinkan penggunanya untuk “menyicil” barang-barang yang ditawarkan dalam catalog barang Arisan Mapan bersama sekumpulan orang. Anggota dapat memilih barang berbeda, maka aplikasi akan menyesuaikan tagihan.

Mapan juga memberikan penghasilan tambahan bagi penggunanya, terutama mereka yang menjadi ketua arisan. Tugas dari ketua arisan sendiri adalah mengatur kegiatan arisan dan memastikan uang setoran terkumpul tepat pada waktunya hingga semua anggota mendapat giliran menang.

(evn)