AwanTunai, P2P Lending 'Pemburu' Warung dan Toko

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Rabu, 29/11/2017 16:21 WIB
Platform peer to peer lending AwanTunai menyasar pengguna segmen menengah kebawah dengan nilai pinjaman sebesar Rp4 juta. Platform P2P lending awan tunai menyasar masyarakat segmen menengah yang tak terjangkau layanan perbankan. (dok. CNN Indonesia/Bintoro Agung Sugiharto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Platform peer to peer lending masih jadi primadona di antara perusahaan fintech lainnya. AwanTunai ikut menyemarakkan musim subur fintech lewat layanan mereka.

CEO AwanTunai Dino Setiawan menilai penyaluran kredit ke masyarakat Indonesia masih sangat sulit. Sekitar 88 persen masyarakat ia sebut masih sukar memperoleh kucuran kredit resmi dari bank dan lembaga serupa.

Tak seperti startup P2P lending lain, AwanTunai mengincar masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah.


"Karena masyarakat yang di atas sudah banyak layanannya, mereka dikejar kiri-kanan oleh bank, tawaran kreditnya menumpuk," ujar Dino yang pernah berkarier di Silicon Valley, Rabu (29/11).

Dino memastikan AwanTunai tak menunggangi popularitas e-commerce dan layanan digital lainnya. Bahkan ia berkata pertumbuhan e-commerce masih lamban ketimbang potensi pasar yang ada.

Ia mencontohkan dari omzet e-commerce lokal yang totalnya hanya US$5 miliar. Padahal menurutnya nilai pasar ritel secara keseluruhan di Indonesia mencapai US$500 miliar. Sistem pembayaran yang belum praktis dan infrastruktur logistik yang belum merata menambah alasan mereka menjauhi arena e-commerce.

"Tujuan saya sebenarnya kan mengincar semua warung toko di Indonesia," imbuh Dino.

AwanTunai tampil dalam bentuk aplikasi mobile dan situs web. Peran mereka hanya sebatas penyalur kredit, distributor yang membantu masyarakat mengakses modal secara cepat. Pemberi dana yang sebenarnya adalah PT Finansia Multi Finance atau biasa dikenal Kredit Plus.

Sistem AwanTunai diklaim sudah sepenuhnya digital tanpa memerlukan tandatangan di atas kertas. Mereka menjamin pengajuan kredit bisa selesai cukup dengan nomor KTP dalam waktu 15 menit saja.

AwanTunai mendapat US$30 juta atau sekitar Rp400 miliar dari Kredit Plus untuk disalurkan kepada masyarakat. Uang sebesar ini sekaligus jadi target bagi AwanTunai untuk disalurkan ke masyarakat selama 2018 nanti.

Plafon kredit yang ditetapkan oleh AwanTunai sebesar Rp4 juta. Angka itu berasal dari estimasi harga ponsel cerdas yang berkualitas namun masih bisa dijangkau masyarakat di segmen menengah ke bawah.

Berbeda dengan P2P lending lain, kredit dari AwanTunai hanya bisa dipakai untuk mencicil ponsel cerdas. Alasannya, barang tersebut sudah jadi kebutuhan utama publik dan dapat menjadi alat penunjang produktivitas.


Alasan lain cuma ponsel yang bisa dicicil lewat kredit di sini adalah cara paling cepat bagi AwanTunai untuk mengumpulkan data dan menyimpulkan pola penggunaan kredit di pelanggan mereka. Setelah data awal terkumpul, AwanTunai akan membuka produk konsumer lain yang bisa dicicil.

"Sejauh ini ponsel saja yang bisa dicicil, tapi tentu saja kami akan menyebar ke produk-produk lain," kata Windy Natriavi, COO AwanTunai.

Layanan AwanTunai baru mengudara ke publik sekitar dua pekan lalu. Di Play Store, aplikasinya sudah diunduh hingga 14.000 kali.

Akan tetapi mereka sebenarnya sudah beroperasi lebih dulu lewat kemitraan dengan Blue Bird. Dalam kemitraan itu, AwanTunai menyediakan akses kredit bagi 16.000 pengemudi dari 42 pool taksi Blue Bird di Jabodetabek selama lima bulan terakhir. Sekitar 8.000 pengajuan kredit dari pengemudia sudah berhasil diterima. (evn)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK