Pengguna Internet di Indonesia Akses Medsos 3 Jam Per Hari

Bintoro Agung , CNN Indonesia | Senin, 18/12/2017 19:30 WIB
Pengguna Internet di Indonesia Akses Medsos 3 Jam Per Hari Pengguna internet di Indonesia rata-rata mengakses media sosial selama 3 jam 15 menit per hari. (dok. Roman Drits/Barn Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika Semuel A. Pangerapan mengungkapkan saat ini pengguna internet di Indonesia telah mencapai 65 persen dari total populasi.

Semuel memperlihatkan rata-rata durasi penggunaan internet orang Indonesia mencapai 8 jam 44 menit. Sementara 3 jam 15 menit di antaranya digunakan untuk menatap laman media sosial.

Hanya saja, meski angka pengguna internet meningkat namun tingkat kepercayaan pengguna terhadap kebenaran informasi masih jauh di bawah rata-rata.

Merujuk pada suvei yang dilakukan oleh Centre for International Governance Innovation (CIGI), lembaga riset Kanada mencatat tingkat kepercayaan kebenaran informasi yang beredar di internet dari beberapa negara sejak 23 Desember 2016 hingga 21 Maret 2017; Amerika Serikat sebesar 53 persen, Prancis 41 persen, dan Jepang 32 persen. Dalam survei tersebut ada 24.225 responden dari 24 negara, termasuk Indonesia.

"Semakin tinggi literasi masyarakat, semakin tidak percaya mentah-mentah apa yang ada di internet," ucapnya dalam forum diskusi di bilangan Bintaro, Tangerang Selatan, Senin (18/12).

Untuk menekan peredaran konten hoaks, Kominfo pun menggalakkan program lietrasi digital yang targetnya bisa dicapai dalam tiga tahun kedepan. Dalam waktu tersebut, literasi digital akan menjadi konsentrasi utama pemerintah.

"Jadi tiga tahun ke depan 2018, 2019, dan 2020, kita akan fokus ke sana," kata Semuel.

Literasi digital, menurut Semuel, adalah cara paling ampuh mengurangi masalah di dunia maya. Berseraknya konten pornografi, perundungan siber, hoaks, fitnah, radikalisme, dan terorisme merupakan contoh pekerjaan rumah yang tak berhenti dihadapi oleh Kemenkominfo.

Semuel meyakini ketika literasi digital sudah diresap oleh masyarakat luas, konten bermasalah tadi akan berkurang. Sejurus dengan itu, sistem pengendalian dari pemerintah pun dipercaya bakal lebih santai.

Pemerintah sejatinya punya empat program utama untuk literasi digital yakni kurikulum pendidikan, pemberdayaan, kolaborasi dengan komunitas, dan pemerintahan siber. Dari keempat itu, baru kolaborasi komunitas saja yang nampak batang hidungnya melalui gerakan Siberkreasis yang diperkenalkan ke publik pada 28 Oktober 2017. (evn/evn)