Agar tidak tertinggal, perbankan pun diharapkan melakukan transformasi agar perannya tidak 'tenggelam' di tengah masyarakat. Handojo berharap layanan perbankan secara umum bisa terintegrasi antara konsumen, korporasi, bisnis dan lainnya.
"Seharusnya, secara umum mereka bertransformasi menjadi bank yang terhubung. Konsepnya harus terintegrasi dengan pihak luar baik konsumen, korporasi, bisnis dan banyak lainnya selama 24 jam, artinya harus online," terang Handojo pada awak media di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (19/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia tak memungkiri jika saat ini perbankan sudah mulai melakukan transformasi tahap awal, ditandai dari kemunculan aplikasi yang sudah bisa digunakan oleh pengguna. Meski jumlahnya saat ini masih sedikit yang menggunakan analisis big data.
Sejumlah perbankan mulai melakukan big data untuk transformasi informasi, penggunaan strategi cloud untuk transformasi model operasi. Bahkan, Handojo mengungkap hanya ada satu bank di Indonesia yang mulai melakukan pelatihan talenta TI dan manajemen keterampilan untuk transformasi pegawai bank.
Kendati demikian, Handojo mengamati bahwa pergerakan bank-bank BUMN untuk menjadi bank digital masih kurang cepat. Menurutnya, alasan utamanya lantaran bank ini tidak terlalu terkena dampak dari pergeseran ke era digital.
"Beberapa bank memang sudah mulai serius untuk bertransformasi. Pada umumnya, top management mereka sudah sadar pentingnya transformasi, tapi beberapa merasa ini tidak terlalu penting karena revenue tidak terlalu terpengaruh," kata dia.
Bank-bank ini kebanyakan melayani pihak korporasi sehingga pemasukan mereka tak terlalu terpengaruh ketika bank lain bergeser bisnis modelnya. Namun, hal berbeda dialami oleh bank-bank yang memang berbasis konsumen.
"Sayangnya kalau di Indonesia ini selain kecepatannya kurang, kemampuannya juga masih kurang, keterampilannya juga masih perlu ditingkatkan. Bank-bank BUMN harus upgrade pengetahuan," tutup dia. (evn)