Duopoli Google-Facebook, Rajai Iklan Digital Dunia di 2017

Eka Santhika, CNN Indonesia | Jumat, 29/12/2017 09:10 WIB
Duopoli Google-Facebook, Rajai Iklan Digital Dunia di 2017 Ilustrasi: Group M memperkirakan Google dan Facebook menguasai 84 persen belanja iklan digital dunia di 2017. Keduanya dianggap menjadi duopoli di industri ini. (AFP PHOTO / ROSLAN RAHMAN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekitar 84 persen dari total belanja iklan digital dunia di 2017 mengalir ke Google dan Facebook pada 2017. Hal ini menjadikan dua perusahaan teknologi itu duopoli di industri iklan digital, seperti diungkap GroupM. Tapi persentase ini diluar perhitungan belanja iklan digital di China.

GroupM sendiri adalah perusahaan agensi iklan terbesar dunia. Penelitian Group M menyebut bahwa tahun ini total belanja iklan digital dunia menyentuh angka Rp1,3 quadriliun (US$100 miliyar).

Tahun depan, diperkirakan pembelian iklan digital naik 4,3 persen sebesar Rp311,8 triliun(US$23 milyar). Sehingga total belanja iklan digital 2018 diperkirakan ada diangka Rp1,6 quadriliun (US$123 miliar).


"Kontribusi terbesar dari nilai total pertumbuhan belanja iklan ini berasal dari dunia digital, yang dimotori oleh Google dan Facebook," ungkap Adam Smith yang menjadi futures director dari GroupM.

Dominasi penyerapan iklan digital oleh Google dan Facebook ini hanya menyisakan sedikit untuk iklan bagi media online. Hal ini membuat pendapatan iklan bagi perusahaan media online dan platform digital lainnya semakin tercekik.

"Redaksi media hanya kebagian sedikit dari apa yang sudah dibelanjakan (di Google dan Facebook)," lanjut Adam, seperti dikutip Financial Times

Smith khawatir duopoli ini bakal mengurangi keragaman pasar industri iklan digital.

Titik jenuh iklan digital

Gelar duopoli ini juga disematkan oleh periset pasar eMarketer. Dalam penelitian yang dilakukan pada pertengahan tahun ini, eMarketer menemukan bahwa Google dan Facebook diperkirakan telah memakan setengah dari pendapatan iklan dunia.

Para pengiklan terikat dengan Google dan Facebook karena keduanya memiliki basis massa yang besar. Selain itu mereka juga menawarkan iklan yang bisa disesuaikan dengan target pasar tertentu.

Meski demikian, dominasi kedua perusahaan ini menimbulkan pertanyaan bagaimana mereka mengelola keuntungan trilunan rupiah itu untuk terus meningkatkan pasar iklan digital. Sebab, belakangan pasar iklan digital tumbuh tak terlalu agresif.

"Iklan digital akan segera mendekati titik jenuh," jelas Brian Wieser, analis senior di Pivotal Research, seperti dikutip Fortune. (sat/eks)