Hal ini bisa dilakukan karena server bisa ikut campur terhadap pengaturan grup di aplikasi berkirim pesan populer tersebut. Hal ini dapat terjadi pada berbagai layanan perpesanan yang menggunakan sistem enkripsi ujung-ke-ujung (end-to-end encryption).
Sehingga, siapapun yang menguasai server tersebut, bisa dengan mudah menyusupkan orang lain ke dalam grup secara diam-diam. Penyusup pun bisa membaca semua percakapan yang sedang terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kerahasiaan grup obrolan jadi rusak saat anggota baru yang tidak dikenal memiliki akses terhadap seluruh pesan baru dalam grup obrolan dan membacanya," jelas Paul, seperti dikutip Wired.
Meski demikian, menjadi pemegang kendali server WhatsApp bukan hal yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Sebab, yang memiliki akses pemegang server Whatsapp dikontrol oleh staf, pemerintah yang bisa meminta akses ke dalam server secara legal, serta hacker kelas kakap.
Lihat juga:WhatsApp Buat Cara Baru Untuk Tonton Video |
Ia juga berpendapat bahwa seluruh anggota grup dapat melihat siapapun yang tergabung dalam grup, sehingga mereka akan mendapat pemberitahuan saat ada 'penyusup' yang masuk ke grup, seperti diberitakan The Verge.
Kerentanan ini juga mengancam aplikasi berkirim pesan lain yang menggunakan sistem enkripsi ujung-ke-ujung serupa Whatsapp, yaitu Signal dan Threema. (eks)