Telegram Akan Keluarkan Uang Digital Serupa Bitcoin

Eka Santhika, CNN Indonesia | Selasa, 16/01/2018 07:13 WIB
Telegram Akan Keluarkan Uang Digital Serupa Bitcoin Aplikasi Telegram (AFP PHOTO / CHRISTOPHE ARCHAMBAULT)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah Kik, kini layanan perpesanan Telegram juga berencana untuk ikut terjun ke dunia cryptocurrency. Telegram berencana untuk melakukan penawaran koin perdana (ICO-initial coin offering) untuk uang digital yang dinamakan Grams.

Lewat penawaran koin perdana ini, Telegram memperkirakan akan mengumpulkan Rp15,9 triliun (US$1,2 miliar). Telegram memperkirakan koin miliknya akan masuk bursa pada 2019.

Pelepasan koin perdana ini rencananya akan dilakukan secara tertutup pada Februari dan dijual untuk umum pada Maret. Dari masing-masing penawaran tersebut Telegram berharap bisa mendapat sekitar Rp7,9 triliun (S$600).



Bedanya

Telegram menyebut bahwa koin digital mereka akan menyelesaikan masalah yang tak bisa dipecahkan oleh Bitcoin dan Etherum.

"Bitcoin telah menempatkan diri sebagai emas digital dan etherum terbukti menjadi platform yang efisien untuk layanan crowdsales," seperti tertulis dalam dokumen Telegram yang dilihat Business Insider. Crowdsales sendiri adalah layanan pengumpulan dana secara kolektif untuk proyek tertentu.

Namun kelemahannya, kedua uang digital itu tak punya standar untuk melakukan transaksi sehari-hari. Sebagai contoh, penjualan KFC di Kanada yang bisa menggunakan bitcoin tidak efektif. Sebab, dibutuhkan 100 menit hingga transaksi dinyatakan berhasil.

Telegram berambisi agar sistem blockchain mereka, TON, bisa menjadi alternatif VISA/Mastercard di era ekonomi desentralisasi.

Rekor

Dengan total pendapatan mencapai Rp15,9 triliun, ini akan jadi penjualan token terbesar didunia.

Sebelumnya, rekor pendapatan dari penjualan koin perdana dipegang oleh Filecoin pada September lalu. Saat itu, layanan penyedia penyimpan awan ini mengumpulkan Rp3,4 triliun (US$257 juta).

Telegram menyebut bahwa 80 persen dari uang yang terkumpul ini akan digunakan untuk membangun ekosistem TON.

"Digunakan untuk peralatan, bandwidth, co-location, dan biaya verifikasi pengguna," jelas isi dokumen tersebut. "Sisanya digunakan untuk gaji, kantor, dan layanan konsultasi hukum."

Grams akan berjalan diatas platform blockchain Telegram, TON (Telegram Open Network). Telegram berencana untuk menyaingi popularitas bitcoin dan etherum, dua cryptocurrency yang sudah lebih dulu eksis.

Metode penggalangan dananya dengan menukar koin mereka sendiri dengan imbalan bitcoin atau ether sudah dimulai tahun lalu. Saat itu, tujuh perusahaan mendapat lebih dari US$100 juta dengan metode ini. Analis independen NEXT memperkirakan dana yang telah dikumpulkan dari ICO sekitar US$ 4 miliar. (eks/eks)