George Soros Soroti Bahaya Facebook-Google Terhadap Pemilu

Eka Santhika, CNN Indonesia | Senin, 29/01/2018 06:48 WIB
George Soros Soroti Bahaya Facebook-Google Terhadap Pemilu Ilustrasi. George Soros menyoroti soal bahaya Google dan Facebook terhadap demokrasi dan pelaksanaan Pemilu (REUTERS/Eric Gaillard)
Jakarta, CNN Indonesia -- Google dan Facebook dinyatakan sebagai 'ancaman' bagi demokrasi dunia dalam acara World Economic Forum (WEF) 2018. Hal ini diungkapkan oleh George Soros, pemodal dan dermawan asal Hungaria dalam acara World Economic Forum, acara tahunan yang berlangsung di Davos, Swiss.

Ia menyebut kedua perusahaan asal Amerika itu memiliki kekuatan monolitik yang mampu menipu dan memanipulasi konsumennya yang berdampak bagi fungsi demokrasi.

"Facebook dan Google telah tumbuh menjadi monopoli yang terkuat yang pernah ada [...] Perusahaan media sosial mengeksploitasi lingkungan sosial. Tanpa disadari, mereka mempengaruhi pola pikir dan perilaku masyarakat. Hal ini memberi pengaruh buruk bagi fungsi demokrasi, terutama dalam hal integritas pemilihan umum," ujar George, seperti dikutip Quartz, Jumat (26/1).



Monopoli

Soros juga menekankan bahwa kekuatan untuk membentuk perhatian orang makin terkonsentrasi di tangan beberapa perusahaan teknologi informasi (TI) di AS saja.

Soros juga menyebut meski kedua platform ini mengklaim hanya mendistribusikan informasi, tapi mereka harus menyadari bahwa mereka memonopoli distribusi tersebut.

Soros menjelaskan bahwa hal ini terjadi dengan mengarahkan perhatian pengguna kepada konten berbayar. Sebab, model bisnis keduanya tergantung dari iklan.

Soros mencontohkan, penggiringan opini publik lewat konten berbayar ini telah terjadi saat pemilihan presiden di AS.

Menurutnya terjadi manipulasi pikiran lewat konten berbayar itu yang dijalankan lewat kendali media sosial. Hal ini menurut Soros akan menghambat apa yang disebut Stuart Mill sebagai masyarakat dengan "kebebasan pikiran".

Kekhawatiran Soros yang lebih besar adalah jika monopoli perusaaan TI AS ini beraliansi dengan "negara-negara otoriter".

"Ini bisa menghasilkan jaringan kontrol totaliter," lanjutnya.

Cuma dua negara yang menurut Soros tak terpengaruh oleh dominasi perusahaan TI AS ini, Rusia dan China. Sebab, kedua negara ini membuat kerajaan internet mereka sendiri, tak melulu terpengaruh perusahaan teknologi AS.

Sebelumnya, sempat disebutkan bahwa Google dan Facebook merajai 84 persen dari total belanja iklan digital dunia.

(sat/eks)