Otoritas AS Selidiki Pencurian Data dan Jual Beli Akun Palsu

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 29/01/2018 20:08 WIB
Otoritas AS Selidiki Pencurian Data dan Jual Beli Akun Palsu Devumi, perusahaan pemasaran media sosial yang berdiri sejak 2010 tengah menghadapi tuduhan serius soal pencurian data dan akan diselidiki oleh otoritas AS. (AFP PHOTO / LOIC VENANCE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Devumi, perusahaan pemasaran media sosial yang berdiri sejak 2010 tengah menghadapi tuduhan serius.

Perusahaan itu diduga melakukan praktik jual beli lebih dari 3,5 juta bot otomatis dan akun palsu di berbagai platform media sosial, terutama Twitter.


Tuduhan pencurian data pribadi pengguna asli juga dilancarkan kepada perusahaan tersebut. Hal itu karena terdapat 55 ribu akun yang diduga menggunakan data pengguna asli serta sebagiannya merupakan warga New York dan di bawah umur.


Jaksa Penuntut Umum New York Eric Schneiderman menyatakan rencananya untuk melakukan investigasi terbuka terkait kabar tersebut.

Melalui akun Twitternya, Schneiderman menegaskan niat dan menilai perusahaan itu telah menyalahi hukum New York karena melakukan peniruan identitas dan penipuan. 



Engadget melaporkan konsumen Devumi adalah orang-orang penting, seperti aktor John Leguizamo dan model Kathy Ireland. Selain itu, pendiri perusahaan Dell Michael S. Dell juga tertangkap menggunakan jasa jual beli followers media sosial.

German Calas sebagai pendiri Devumi menolak jika perusahaannya disebut menjual akun palsu, meski saat dihadapkan pada bukti ia memilih bungkam.

Praktik serupa juga marak terjadi di benua Asia. Bisnis ini dijalankan oleh tiga pria di Thailand dan berhasil digerebek pada pertengahan tahun lalu. Uang yang dihasilkan sekitar Rp80 juta (US$ 6.000) setiap bulannya. (asa)