Nasib Gerai Pulsa Tradisional di Tengah Gempuran e-Commerce

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Kamis, 01/02/2018 12:04 WIB
Nasib Gerai Pulsa Tradisional di Tengah Gempuran e-Commerce Ecommerce dinilai mengancam keberadaan gerai pulsa tradisional. (Foto: Thinkstock/Poike)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perkembangan industri ecommerce dapat mengancam eksistensi gerai pulsa tradisional. Pasalnya, ecommerce hadir dengan teknologi yang mumpuni, pengetahuan dan modal yang besar.

Founder dan Direktur PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk. Roby Tan menjelaskan dengan kesiapan industri ecommerce maka dengan mudah dapat menggempur gerai pulsa tradisional.

“Mereka memiliki kendala pokok. Salah satunya, tidak punya cukup modal untuk mengembangkan usaha. Padahal modern channel itu datang dengan modal yang lebih besa. Selain itu, daya beli ke principle itu kurang karena kuantitasnya kurang,” papar Roby ketika ditanya oleh CNNIndonesia.com pada Rabu (31/1) di Axa Tower, Jakarta.
Roby menjelaskan hal tersebut seharusnya tak menjadi penghalan gerai pulsa tradisional. Pasalnya, penjual dapat diberikan edukasi, permodalan hingga dilengkapi dengan teknologi agar membantu distribusi produk lebih efisien.



Bantu Permodalan dan Distribusi Pulsa

Sejalan dengan permasalah yang dihadapi oleh gerai pulsa tradisional, emiten berkode sandi MKNT sebagai distributor pulsa telah menyiapkan beberapa langkah.

Salah satu di antaranya adalah mencaplok startup Kioson. Dengan anak usahanya ini, penjual outlet mendapatkan harga bersaing untuk pelanggan retail mereka.

“Kami juga berikan pelatihan agar mereka bisa meningkatkan penjualan melalui marketplace yang sudah ada,” lanjutnya.
Roby mengungkap hingga saat ini kontribusi penjualan melalui channel online masih minim. Sebesar 75 persen penjualan pulsa operator dilakukan melalui outlet, 20-25 persen di bank/ecommerce sementara tiga persen lainnya melalui online.

Adapun, masalah permodalan pun menjadi kendala yang harus ditaklukkan gerai pulsa agar mampu bersaing dengan ecommerce. Untuk membantu pemilik outlet MNKT bekerjasama dengan perusahaan rintisan peer to peer (P2P) lending, Kimo.

Histori transaksi pemilik gerai akan menjadi bukti agar setiap gerai bisa mendapatkan pinjaman kisaran Rp500 ribu hingga Rp5 juta. Namun, program ini masih percobaan yang dilakukan di 6.000 outlet seluruh Jawa, Bali hingga Sumatera.

“Hasil dari pilot project tersebut, transaksi mereka naik 25 hingga 33 persen selama November-Januari 2018 di 6.000 outlet itu,” kata Roby.
Sementara untuk mempermudah distribusi produk, MNKT tengah mengembangkan aplikasi yang akan memudahkan gerai memesan voucher/produk dengan lebih cepat. Selama ini, distributor seringkali membawa produk yang tidak dibutuhkan sehingga penjualan menjadi tidak maksimal.

“Aplikasi tersebut digunakan mulai tahun lalu dan akan disempurnakan pada kuartal dua 2018. Dari proses transaksi dua hari menjadi kurang dari tigamenit udah sampai. Semuanya pada saat pilot. Pembayaran bisa lewat COD atau banking,” tambah Roby.

Industri Telekomunikasi Masih Positif

Di samping gempuran ecommerce pada gerai pulsa tradisional, Roby menilai industri telekomunikasi masih akan menjadi industri yang positif pada 2018. Pasalnya, masyarakat yang berpindah dari 2G ke 4G masih banyak.

Selain itu, porsi frekuensi yang bertambah untuk operator akan memperbaiki pengalaman pengguna sehingga kebutuhan akan pulsa dan telekomunikasi masih tinggi.

“Untuk anak-anak zaman sekarang ini bukan lagi sandang, pangan, papan ya tetapi sandang, pangan, pulsa dan jalan-jalan baru kemudian papan ya,” tutupnya. (age/age)