Sektor 'Peer to Peer Lending' Masih Potensial untuk Startup

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Rabu, 07/02/2018 02:39 WIB
Pertumbuhan startup fintech yang bergerak dalam bidang peer to peer (P2P) lending di Indonesia disebut masih memiliki lahan yang luas untuk bergerak. Pertumbuhan startup fintech yang bergerak dalam bidang peer to peer (P2P) lending di Indonesia disebut masih memiliki lahan yang luas untuk bergerak. (Foto: CNN Indonesia/Kustin Ayuwuragil)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertumbuhan startup fintech yang bergerak dalam bidang peer to peer (P2P) lending di Indonesia disebut masih memiliki lahan yang luas untuk bergerak. Data Otoritas Jasa Keungan (OJK) mengungkap bahwa kebutuhan kredit nasional mencapai Rp1.700 triliun per tahun. Namun, hanya Rp700 triliun investasi terpenuhi.

Meski saat ini sekitar 30 perusahaan rintisan peer to peer lending terdaftar di Indonesia, masalah permodalan tersebut tetap menjadi kendala. Djaring, salah satu web developer untuk UMKM Indonesia, mengatakan mereka berencana untuk membuat platfrom peer to peer lending yang ditargetkan rampung tahun ini.

"Nantinya, kami akan menggunakan rekaman data transaksi, data penjualan yang ada di server dari UMKM kami. Jadi, investor bisa melihat performa mereka sebagai proyeksi investasi," terang Laksamana Mustika, CEO sekaligus pendiri Djaring.
Perusahaan ini juga menyediakan platform untuk mempertemukan penyedia jasa tenaga kerja yang berhubungan dengan ecommerce dengan pemilik UMKM. Laks melihat sistem yang dia bangun akan menyerupai Gojek yang memiliki banyak mitra penyedia jasa pengantaran orang maupun barang.


"Kami sudah menyiapkan platform di luar penjualan yang bisa menyediakan misalnya jasa admin. Biasanya anak-anak kuliah yang ingin bekerja bisa sambil menjadi admin," jelasnya.

Sistem akan berjalan dengan dimulai dari tenaga kerja yang mendaftar melalui platform. Bagi bisnis yang membutuhkan tenaga bisa menemukan penyedia jasa yang dibutuhkan.
Pembayaran dilakukan melalui Djaring agar lebih murah, sebab menggunakan sistem sharing.

"Nanti kalau ada orang yang membutuhkan pekerjaan bisa menggunakan platform yang sedang kita kembangkan ini untuk memberikan jasa mereka. Nanti kami bayarkan melalui platform itu juga. Jadi seperti mitra untuk desain, foto, video dll. Daripada membayar harga yang sangat tinggi sesuai UMR," terangnya.

Lebih lanjut, alumnus Binus ini mengatakan bahwa platformnya masih dalam tahap pengembangan. Sistem P2P lending itu masih akan dimatangkan terlebih dahulu. (age/age)