Hasil 'Kencan' Pertama dengan Mitsubishi Xpander

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Jumat, 09/03/2018 09:32 WIB
Hasil 'Kencan' Pertama dengan Mitsubishi Xpander Mitsubishi Xpander diuji coba jurnalis dari Solo-Yogyakarta selama tiga hari. (Dok. Mitsubishi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mitsubishi Xpander adalah kendaraan penumpang yang menggabungkan antara desain SUV dan MPV dan cukup 'merobek' pasar low MPV dalam negeri dengan hasil penjualan wholesales-nya tembus 7.079 unit pada Januari 2018.

Desain, fitur dan teknologi yang diusung seperti memberi jawaban atas kejenuhan pasar di segmen yang dimasuki Xpander. Hal ini kemudian membuat konsumen bertanya-tanya, bagaimana performa Xpander sebenarnya.

Masih dalam agenda media test drive Solo-Yogyakarta selama tiga hari (6-8/3), CNNIndonesia.com mendapat giliran 'mengencani' Xpander pada hari kedua acara di daerah DIY Yogyakarta.


Setelah puas mengulas interiornya sebagai penumpang, kini saatnya bercerita bagaimana performa MPV yang dihadirkan untuk melawan Toyota Avanza sebagai pemimpin segmen low MPV dalam negeri. Uji coba kali ini saya fokuskan pada performa mesin dan membuktikan suspensi yang 'dikaitkan' dengan sasis monokok yang dikenal nyaman untuk mobil penumpang.
Xpander diuji coba jurnalis dari Solo - Yogyakarta selama tiga hari.Xpander diuji coba jurnalis dari Solo - Yogyakarta selama tiga hari. (Dok. Mitsubishi)
Pada artikel sebelumnya, saya sudah mengupas bagaimana rasanya duduk sebagai penumpang Xpander Ultimate (varian tertinggi). Di hari kedua acara saya mendapat giliran 'menyiksa' Xpander tipe Sport, atau satu tingkat di bawah tipe Ultimate.

Sehingga tidak heran saat masuk ke dalam kabin terlihat berbeda, terutama pada sistem hiburan. Untuk tipe ini sudah tersedia sistem audio 2 DIN untuk menjaga suasana hati selama di perjalanan.
Jumlah tombol yang tersimpan pada lingkar kemudi juga lebih sedikit. Hanya untuk mengatur audio, tanpa tombol penerima telepon. Tipe ini sudah menggunakan bahan jok dan interior sama persis dengan tipe Ultimate. Tetapi, patut diingat khusus tipe Sport, interior yang digunakan berwarna hitam.

Kualitas material yang digunakan secara keseluruhan hampir sama dengan mobil sekelas. Tak ada yang istimewa.

"Apa yang kau bayar itu yang kau dapat," gumam saya sebelum menyalakan mesin Xpander.

Xpander melintasi berbagai kontur jalan selama uji coba berlangsung. Xpander melintasi berbagai kontur jalan selama uji coba berlangsung. (Dok. Mitsubishi)
Menyalakan jantung penggeraknya sangat mudah, cukup dengan menekan tombol engine start/stop terletak pada dasbor yang terletak di sisi kanan pengendara, sembari menginjak pedal rem. Mobil pun digerakkan dengan kecepatan sedang.

Xpander yang menyimpan mesin DOHC 1.500cc transmisi otomatis lima percepatan mempunyai sistem perpindahan gigi yang halus. Mesin ini memiliki karakter responsif ketika pedal gas diinjak dalam-dalam. Getaran mesin juga terasa minim sampai ke kabin penumpang, dan kabin sangat senyap saat mobil bergerak mulai kecepatan rendah sampai sedang.

Beragam jenis jalur saya lalui ketika berada di balik kemudi Xpander. Mulai dari jalan landai di perkotaan hingga menuju lokasi dengan melewati kontur jalan menanjak yang dihiasi banyak tikungan dan bergelombang. Kondisi saya manfaatkan untuk mencari tahu kelemahan mobil.

Dan hasilnya, mobil ini sangat menarik perhatian. Mobil tetap berjalan lancar tidak kehilangan tenaga di tanjakan meski membawa beban empat penumpang dewasa, beserta tas-tas besar yang berisi barang pribadi.
Xpander yang saya kendarai sempat dihentikan di jalan menanjak untuk mengetahui performa mesin bertenaga 104 ps pada 6.000 rpm dan torsi puncak 141 Nm pada 4.000 rpm yang memutar kedua roda depan.

Nyatanya, tidak bisa ada yang didebat rancang bangun gerak roda depan yang digunakan Xpander. Tenaga-tenaga yang dibagikan ke dua roda depan sanggup menggerakkan bodi mobil. Mobil tetap berjalan normal dan tidak perlu diragukan lagi.

Perjalanan terus berlanjut. Rasa penasaran mengetahui kelebihan lain mobil ini masih cukup besar tersimpa dalam benak saya.

Pedal gas terus saya injak sembari terus memegang lingkar kemudi yang sudah dilapisi bahan kulit. Untuk mendapat kenyamanan berkendara dengan Xpander rasanya tidak sulit, sebab kemudi dapat diatur tinggi dan rendahnya. Mengaturnya cukup menggeser tuas yang ada pada leher kemudi.
Mitsubishi Xpander di Prambanan, Yogyakarta.Mitsubishi Xpander di Prambanan, Yogyakarta. (Dok. Mitsubishi)
Kemudi juga terasa ringan saat mengajak mobil ini bermanuver. Ini karena dibantu sistem kemudi electronic power steering yang menyuguhkan respon sesuai keinginan pengemudi.

Satu sisi, Anda tak perlu khawatir merasa limbung. Selama perjalanan, baik menjadi penumpang maupun menjajal langsung sebagai pengemudi, gejala limbung hampir tidak terasa pada mobil ini. Padahal struktur suspensi yang digunakan tak jauh berbeda dari mobil sekelas.

Kesimpulan

Hampir 300 km perjalanan saya tempuh bersama mobil ini. Perjalanan dari Solo-Yogyakarta dengan menggunakan mobil ini bisa dibilang mengasyikan. Kenyamanan dan kesenangan berkendara berhasil saya dapatkan. Perusahaan berlogo tiga berlian pintar meramu kelebihan-kelebihan kompetitor yang selanjutnya disematkan pada Xpander.

Sedikit mengomentari desain eksterior bagian buritan yang tidak sebanding dengan desain fasia depan. 'Ala-ala' crossover perpaduan SUV dan MPV sudah berhasil diwujudkan Mitsubishi pada bagian depan, namun ketika beranjak ke belakang, seperti ada yang ganjil desainnya. Bagian itu bisa jadi 'PR' bagi para desainer untuk Xpander model berikutnya, dan jangan 'akal-akalan'.

Selain itu, Mitsubishi wajib memperhatikan kenyamanan bagi penumpang kursi baris ketiga. Apalagi Mitsubishi mengklaim mobilnya layak diisi oleh tujuh penumpang dewasa. (mik)