Pesawat Tenaga Surya Terbang di Hari tanpa Bayangan

CNNIndonesia, CNN Indonesia | Kamis, 22/03/2018 03:33 WIB
Pesawat Tenaga Surya Terbang di Hari tanpa Bayangan Pesawat tanpa awak bertenaga surya pertama di Indonesia yang berhasil diterbangkan saat Hari Tanpa Bayangan (Destriadi Yunas Jumasani)
Pontianak, CNN Indonesia -- Komunitas anak muda Pontianak menerbangkan pesawat tanpa awak bertenaga surya. Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau pesawat tanpa awak bertenaga surya ini diklaim merupakan yang pertama di Indonesia.

"Pesawat kita bikin sendiri bukan dirakit, kecuali solar cell yang kami impor dari China," jelas CEO Borneo Skycam Toni Eko Kurniawan, Rabu (21/3) saat ditemui di acara Festival Pesona Kulminasi 2018.

Pesawat bertenaga surya ini dinamakan OPIOR 1603. Komunitas Borneo SkyCam dan Creative Robotic School menjadi pengembang pesawat tanpa awak ini. Borneo Skycam bergerak di bidang drone dan pemetaan, sementara Creative Robotic adalah komunitas robotik setempat.


Menurut Toni, pesawat ini biasanya digunakan sendiri dan dimanfaatkan untuk kebutuhan pengambilan data peta yang bisa mencakupi wilayah 1000-3000 hektar sekali terbang.

Toni berharap kemampuan pesawat ini bisa dikembangkan lebih jauh. Ia mengklaim pesawat ini bisa juga dipakai untuk kepentingan militer.

"Bisa untuk pemantauan batas negara atau digunakan untuk pengambilan data peta, kami juga membuka pintu jika ada investor yang ingin mengembangkan proyek pesawat tanpa awak ini," pungkas Toni.

Teknis pesawat

Pesawat terbuat dari kayu dan styrofoam ini mampu membawa solar cell dengan kapasitas daya 133 watt. Konsumsi motor yang hanya 100 watt memungkinkan mengisi ulang baterai yang dibawa pesawat selama terbang di siang hari untuk daya di malam hari.

Toni menjelaskan menerbangkan pesawat OPIOR 1603. Pesawat ini dilengkapi dengan sistem auto-pilot dan kamera yang terhubung secara real time ke Ground Control Station. Ground Control Station ini berfungsi seperti menara ATC Bandara.

"Rencana awal, kita akan menerbangkannya dengan tema membelah langit Khatulistiwa selama 16 jam. Tapi sayang, lantaran lokasi berada di area penerbangan Bandara Internasional Supadio Pontianak, izin terbang selama itu tidak dibolehkan," tutur Toni usai menerbangkan pesawatnya dan memindahkan ke mode auto-pilot.

Menurut Toni OPIOR 1603 ini hanya akan terbang selama tiga hingga empat jam saja. Sebelum diterbangkan di area Tugu Khatulistiwa, pesawat dengan panjang sayap 310 centimeter dan panjang badan 162 centimeter dan berat enam kilogram ini telah diuji terbang selama 14 jam.

Kendala

Toni menuturkan awalnya untuk membuat project ini sebenarnya berawal dari permintaan konsumen yang minta dibuatkan pesawat tanpa awak, yang bisa mengudara lebih dari empat jam. Toni dan tim berpikir akhir-akhir ini sinar matahari di Kota Pontianak sangat panas, sehingga mereka berpikir sepertinya sangat efektif kalau energi panas matahari bisa dipakau untuk keperluan di bidang penerbangan. Ternyata benar, semakin mendekati hari kulminasi, daya yang dihasilkan oleh solar cell terus meningkat. "Kemaren pertama kami sempat pesimis karena daya yang dikeluarkan solar cell kurang optimal, rupanya mendekati hari puncak ada peningkatan," ungkap Toni.

Toni merasakan benar-benar kerja tim selama dua bulan terakhir ini, karena banyak tantangan yang mereka hadapi. Di bidang aerodinamikan Toni akui kewalahan untuk membuat airframe yang optimal antara jumlah solar cell denga berat pesawat, namun akhirnya merek dapat di panjang sayap 310 centimeter bisa membawa 38 cell panel (133 watt). "Kami sangat kesulitan cari lapangan untuk uji coba, cuaca juga tidak maksimal panas sampai satu hari penuh," tutur Toni.

Sedangkan untuk di bagian elektroniknya, mereka sempat dipusingkan dengan sistem pengecasan batrai dari solar cell. Beberapa kali mereka gagal sehingga driver charging terbakar saat pesawat mengudara hingga akhirnya mereka dapat settingan yang pas. "Kami sangat bersyukur karena pesawat ini bisa mengudara sesuai target, solar cell juga bekerja optimal sehingga penggunaan batrai bisa hemat bahkan batrai juga di cas matahari saat bersinar terang," jelasnya.

Toni akui riset untuk project pembuatan OPIOR 1603 sudah mulai dari November 2017. OPIOR 1603 ini sendiri sudah versi ke empat, karena tiga lainnya gagal. Untuk bodi pesawat saja Toni dan timnya membutuhkan waktu dua hingga tiga pekan pembuatan. Sedangkan dananya ia akui menggunakan dana patungan dari Borneo Skycam dan Hotama House. "Kalau dana sampai sekarang kita patungan sudah habis sekitar Rp 60jutaan," kata Toni.

Pesawat tersebut berhasil diterbangkan pada Rabu (21/3/2018) pukul 12.30 WIB di Festival Pesona Kulminasi 2018. (agh/eks)